Review : Catatan Harian Si Boy (2011)


Cast : Ario Bayu, Carissa Puteri, Poppy Sovia, Abimana Setya, Albert Halim, Paul Foster

Director : Putrama Tuta
Apa yang menjadi kemudahan dan kesulitan dalam menulis review film sekuel? Banyak. Kemudahannya jelas, penulis bisa lebih mudah menemukan titik lemah hanya dengan membandingkan film dari prekuelnya. Kesulitannya sendiri ketika penulis harus benar-bener teliti dalam menonton filmnya untuk bisa membandingkan antara jilid sebelumnya dan jilid terbarunya.
Nyaris seperempat abad sebelumnya, Catatan Si Boy di era 80-an begitu berhasil menjadi dokumentasi sejarah. Tanpa mengikuti dengan jelas seperti apa Catatan Si Boy kala itu gue yakin kalo “Catatan Harian Si Boy” 2011 ini ga kalah dari versi sebelumnya. Titik lemah dan kebablasan dimana-mana tetep bisa gue liat, tapi menurut gue film ini punya warna sendiri untuk “Catatan Si Boy” bahkan untuk di sandingkan dengan film-film lain, terlebih film yang rilis ditahun 2011.
Sebagai sutradara yang baru memulai debutnya, Tuta dengan bijaknya mengakui, film pertamanya ini “mencatut” tokoh dan film yang melegenda. Jika hasilnya mengecewakan atau bahkan melenceng, Catatan Harian Si Boy bakal jadi cercaan banyak kalangan terlebih pada penonton film Indonesia yang menjadi fans film terdahulunya. Maka untuk membenang merahkan Catatan Si Boy dengan filmnya, terciptalah naskah yang brilian. Boy bukan lagi tokoh utamanya. Buku hariannya lah yang menjadi cerita sentral di film ini. Nuke (pacar boy, diperankan oleh Ayu Azhari) sedang mengalami masa kritis. Ia menggenggam buku harian Boy. Buku itu kemudian terjatuh dan ditemukan oleh Tasha (Carissa Puteri). Disini, tonggak ceritanya.
Berbicara dari segi cast, Ario Bayu yang didaulat menjadi tokoh utama di film ini, cukup berhasil memainkan karakter Satrio. Emosi yang dibangunnya terbilang sangat baik dan rapi. Disini penonton benar-benar bisa merasakan atmosfir “film cowok” dari karakter Satrio. Mungkin akan berbeda hasilnya bila tokoh Satrio dilempar ke aktor lain, dimana disini Ario Bayu berhasil memperlihatkan kelihaiannya dalam mengaduk-aduk emosi penonton. Namun, segemilangnya akting Ario Bayu, gue justru melihat bintang di film ini adalah Poppy Sovia. Pemilik bengkel yang tomboy bernama Nina. Puncaknya saat menuturkan kekecewaannya terhadap Satrio, tanpa perlu adegan mewek yang berlebihan, tanpa perlu berbasa-basi, Poppy Sovia sangat berhasil memukau penontonnya. Pembuktian lain ditunjukkan Carissa Puteri. Sangat disayangkan kecantikannya yang begitu mempesona di film ini, ia terlihat masih sangat lemah dibeberapa adegan terlebihnya pas mewek-meweknya. Sangat gagal gue bilang.Tapi bagusnya, menurut gue ini menjadi penampilan terbaik Carissa Puteri selama bermain film. sesuatu yang tidak terlihat di film terdahulunya, Ayat-Ayat Cinta dan The Tarix Jabrix dimana di dua film tersebut, ia tampil flat dan tidak memuaskan.Dua aktor pendukung di film ini , Abimana Setya (Andi) dan Albert Halim (Herry) rasanya juga cukup berperan penting. Abimana dan Albert disepanjang film menggunakan kosakata seputar kelamin, kosakata yng ditujukan untuk sesuatu yang kasar, sampai seputar gay, berhasil menyajikannya menjadi kata-kata yang tidak terdengar menjijikkan dan sesuai dengan kondisi aktual anak muda jaman sekarang. Dialog-dialog tersebut tentu akan garing jika tidak diperankan oleh pemain yang tepat. Albert dan Abimana seolah memberi tau kepada penonton, betapa pentingnya pemeran pendukung dalam film ini.
Seperti yang gue pernah bilang sebelumnya, menurut gue film dilihat dari dua sisi. Hiburan dan kualitas. Yang gue liat dari Catatan Harian Si Boy, film ini lebih kuat dari segi hiburan namun kabar baiknya adalah, film ini bukan sekedar film hiburan tanpa kualitas. Menjadi alasan utama penonton meminggirkan handphone-nya ketika menonton film di salam theater, untuk mengikuti dialog demi dialog yang begitu lugas dan cerdas. Sinematografi yang sebenarnya menurut versi gue agak terlihat baru untuk ukuran film bioskop, tidak menjadi poin negatif dari film itu sendiri. Penonton cukup bisa menikmati filmnya karena jujur film ini bisa gue bilang salah satu film segar* di tahun 2011.  Yang patut gue dan bahkan mungkin penonton lain sesalkan adalah semua yang ditunjukkan film ini, harus luntur seketika dengan ending yang terkesan sangat biasa. Tidak ada formula baru yang di suguhkan padahal filmnya cukup memukau dari awal sampai pertengahan film. Sayang.

So, dengan bobot seperti ini, gue rasa film ini cukup berpotensi untuk bagian box offfice dan sebenarnya “masih bisa lebih baik” terlebih dari segi kualitas.

Iklan