Review : Di Bawah Lindungan Ka’bah (2011)


Cast : Laudya Cinthya Bella, Herjunot Ali, Niken Anjani, Tarra Budiman, Hj. Jenny Rachman, Widyawati, Didi Petet, Leroy Osmani

Directed : Hanny R. Saputra
Release Date : August 25, 2011

Rate Description :
O : Rubbish – 1 : Dissapointing – 2 : Ordinary – 3 : Good – 4 : Very Good – 5 : Recomended!

Seperti yang kita ketahui tren “based on novel best seller” tidak hanya ramai dilakukan sineas luar namun kini juga tengah ramai di sadur oleh sinelas lokal. Bukan satu dua kali bahkan sejak tahun hampir 2008 dimana Ayat-Ayat Cinta laku keras dilanjutkan dengan Laskar Pelangi ditahun yang ditonton 4 juta lebih pasang mata hampir setiap tahunnya diproduksi film berdasarkan novel laris. Setelah Tetralogi Laskar Pelangi yang (masih) akan difilmkan, Perempuan Berkalung Sorban, Syahadat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, sampai novel bergenre thiller Jejak Darah, tahun ini bertepatan dengan Lebaran Idul Fitri, Di Bawah Lindungan Ka’bah yang telah banyak dibicarakan jauh sebelum filmnya tayang, akhirnya rilis juga!
Hamid dan Zainab berasal dari dua keluarga dengan tingkat sosial yang berbeda. Hamid yang berasal dari keluarga miskin dan Zainab yang berasal dari keluarga kaya. Hamid mendapat dukungan dana sekolah dari ayah Zainab, ibu Hamid pun bekerja di rumah keluarga Zainab. Pertemuan demi pertemuan membuat keduanya, Hamid dan Zainab, kemudian saling jatuh cinta. Mereka berbagi impian yang sama, yaitu tiap manusia bebas untuk mencintai dan dicintai, dan impian untuk menunaikan ibadah haji di Mekah. Hamid melakukan segalanya demi Zainab. Demi mewujudkan cinta mereka. Demi mewujudkan impian itu. Melewati berbagai halangan yang ingin memisahkan mereka, mencoba membuka satu persatu belenggu yang meng atasnama kan adat masa itu. Bahkan ketika keinginannya untuk meminang Zainab pupus sudah, keinginannya untuk mewujudkan impiannya dan Zainab pergi ke Ka’bah tetap ia perjuangkan. Hamid berjuang pergi ke Mekah demi Zainab. Zainab berjuang mempertahankan cintanya demi Hamid.

Banyak yang berasumsi bahwa film ini akan unggul untuk tahun 2011 dimana proses pembuatannya memakan waktu hampir 2 tahun dan meraup biaya produksi yang sangat besar untuk memuat replika ka’bah, kostum serta teknik visual yang berbiaya tinggi.Namun, untuk mengukur kesuksesan sebuah film adaptasi novel, tidak hanya dilihat dari jumlah penonton yang berhasil diraupnya. Film keseluruhan dilihat dari eksekusi dari apa yang telah ada, apalagi Di Bawah Lindungan Ka’bah merupakan sebuah remake dari film yang berjudul sama mengangkat cerita yang bersetting 1920, dan menggunakan ka’bah pula. Hasilnya?
Dari segi artistik, film ini dengan sangat berhasil menampilkan setting 1920 yang begitu nyata. Mulai dari kostum, lokasi syuting filmnya sukses menutupi kemunculan sponsor dibeberapa scene yang terkesan sangat dipaksakan. Replika ka’bah terlihat cukup meyakinkan.Begitupun dengan askah film yang ditulis Titien Wattimena juga tampil dengan seharusnya. Diiringi musik khas Tya Subiakto, menjadi nilai plus dari keseluruhan filmnya.
Sayangnya dari semua nilai positif tersebut, kekecewaan justru berpusat pada cast yang menurut saya sama sekali tidak menuai chemistry. Herjunot Ali terlihat masih sulit melepas karakter bengal di film terdahulunya. Ia tampil sangat mengecewakan. Adegan tertawa yang terasa dipaksakan, sampai adegan menangis yang rasanya too much (mungkin emang mau menunjukkan ke-naturalan dari sosok Hamid ketika bersedih, tapi tetep too much). Jelas, ini kegagalan untuk Herjunot sendiri. Penonton dengan mudahnya akan membanding-bandingkan tampilannya pada dua filmnya dimana ia tampil lebih baik dari film ini, Realita Cinta dan Rock ‘n Roll, dan Gara-Gara Bola.Dilain hal, Laudy Cinthya Bella tidak tampil seburuk Herjunot, tapi jelas ini bukan film terbaik dari Bella sendiri. Hanya Widyawati dan Didi Petet yang tampil meyakinkan. Patut disayangkan setting yang telah di ciptakan dengan begitu baiknya diruntuhkan dengan Hamid dan Zainab yang saya rasa dari awal film tidak berhasil membangun chemisty yang seharusnya.Dibawah Lindungan Ka’bah adalah film yang sangat berpotensi untuk menjadi film yang memuaskan namun ternyata hasilnya cukup gagal. Ekspektasi yang terlanjut tertanam begitu besar hanyaakan menambah rasa kecewa yang mendalam.
Dengan hasil demikian, masih besarkah peluang MD Entertainment untuk kembali mendulang sukses Ayat-Ayat Cinta dengan 3,8 juta penonton?
Sepertinya tidak, meningat sang produser sendiri terlampau jauh menargetkan 7 Juta penonton pada film ini.
Kita doakan saja 🙂
Iklan