Review : Lima Elang (2011)


Cast : Christoffer Nelwan, Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, Bastian Bintang Simbolon, Teuku Rizky Muhammad, Monica Sayangbati, Junior Liem

Directed : Rudi Soedjarwo
Release Date : August 25, 2011
Rate Description :
O : Rubbish – 1 : Dissapointing – 2 : Ordinary – 3 : Good – 4 : Very Good – 5 : Recomended!

Dalam menonton sebuah film, penting rasanya untuk mengetahui dengan jelas terlebih dahulu seperti apa jenis film yang akan ditonton. Mengapa demikian? Menciptakan suatu ekspektasi adalah hal yang wajar sebelum menonton film. Kebanyakan dari penonton akan puas jika hasil akhir filmnya sesuai dengan ekspektasinya, dan sebaliknya akan kecewa jika film tersebut tidak sesuai akan ekspektasinya. Meskipun tidak terjadi pada setiap penonton namun tidak sedikit pula dari mereka yang berekspetasi pada calon film yang akan ditonton.
Baron sangat kesal ketika harus mengikuti orang tuanya pindah dari Jakarta ke Balikpapan.  Ia pun memilih untuk menutup diri dari lingkungan barunya dan sibuk sendiri bermain mobil RC.  Namun, karena satu dan lain hal, Baron harus mewakili sekolahnya ikut perkemahan Pramuka dan satu regu dengan Rusdi, pramuka supel yang kelewat optimistis dan kerap kali membuat Baron jengkel.  Bersama dengan anggota lain, Anton si ahli api, dan Aldi, si kerdil yang tempramental, mereka memulai petualangan barunya di Perkemahan.  Mereka juga bertemu dengan Sindai, gadis perkasa, yang banyak membantu Baron dkk ketika harus menjelajahi hutan lebat dalam salah satu games perkemahan.  Situasi semakin menegangkan ketika Rusdi dan Anton diculik oleh komplotan penebang hutan liar pimpinan Arip Jagau di tengah hutan.  Baron, Aldi, dan Sindai, yang tadinya mau kabur dari perkemahan, harus kembali untuk menolong kedua sahabatnya http://www.21cineplex.com/lima-elang-lima,movie,2576.htm.
Maka ciptakanlah ‘mindset’ yang sesuai dengan jenis film yang ditonton. Terlebih ketika akan mengukur seberapa berhasil filmnya memenuhi ekspektasi. Contohnya, dalam menonton film anak-anak ‘Liburan Seru’, film remaja ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ dan film dewasa ‘Pintu Terlarang’ dimana ketiga film tersebut memilikiinti komponen yang berbeda. Singkatnya, ketika penonton dewasa memutuskan untuk menonton film anak-anak maka segala macam ‘mindset’ yang di gunakan dalam menonton film dewasa sekiranya diubah demi memahami perbedaan yang sesungguhnya antara film anak-anak, remaja, dan film dewasa.
Rudi Soedjarwo lumayan berhasil buat ngidupin ‘Pramuka’ yang menjadi nafas film ini. Ketika menontonnya kita bener-bener dibawa kedalam nafas filmnya yang tampil dengan begitu nyata. Tata musik yang dipercayakan ke ‘Aghi Narrotama’ terasa begitu ‘asyik’ dalam mengiringi filmnya. Membangkitkan semangat. Namun ‘Lima Elang’ bukan tanpa cela. Beberapa adegan terasa begitu dipaksakan. Lebay malah menurut gue. Terkecuali anak-anak yang maybe malah seneng sama bagian tersebut. Beberapa dialog yang dilontarkan tokoh utama ‘Rusdi’ menurut gue lebay tapi sekali lagi, film ini film anak-anak. Mesti ada pemakluman yang lebih besar dari menonton kategori film remaja dan dewasayang kadang-kadang juga mengandung sisi ‘lebay’ di filmnya.
Di sisi akting gue suka chemistry antara Baron (Christoffer Nelwan) sama Rusdi (Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan) pengenalan karakter berhasil mereka berdua tampilkan dengan begitu rapi. Didukung 3 ‘elang’ yang lain filmnya menurut gue berhasil menunjukkan seberapa pentingnya ditumbuhkan ‘jiwa persahabatan’ antar sesama teman apalagi film ini ditonton anak-anak meskipun sebenernya pesan filmnya sendiri universal.
Dari apa yang udah gue tulis, beberapa film anak-anakpun tidak luput dari eksekusi yang kurang tepat. Misalnya film anak-anak yang terlalu kekanak-kanakan, film anak-anak yang terlalu keremaja-remajaan, bahkan diatasnya. Makanya penting bagi gue bahkan meuurut gue juga penting buat calon penonton lain untuk memahami betul jenis film yang akan ditonton. Apalagi untuk film bertema anak-anak yang akan memudahkan penonton dalam melihat seberapa ‘setia’-nya film tersebut pada genrenya sendiri. Dalam kasus ini, gue bilang ‘Lima Elang’ masih bermain di arena-nya dan sangat pantas disebut film anak-anak.’Lima Elang’ menjadi sebuah film yang begitu bermanfaat untuk anak-anak (dan sebenernya kita juga). Produksi film sejenis inilah yang semestinya diperbanyak. Semoga penonton film Indonesia terus tergerak hatinya untuk menoleh ke film yang lebih ‘serius’ dibanding hanya menonton film remaja yang sarat akan adegan ‘dewasa’, atau bahkan film dedemit, dan komplotannya. Bagaimanapun juga, nasib perfilman Indonesia tergantung terhadap penontonnya 🙂

Iklan