Review : Pelet Kuntilanak (2011)


Cast : Debby Ayu, Cinta Dewi, Angie Yulia, Billy Davidson, Billy As, Yudha Putra

Director : Koya Pagayo
Release Date : 1 June 2011
Rate 1/5 : Ga masuk kategori bintang
Menyedihkan rasanya, ga ada satupun nilai lebih yang gue dapet dari film ini. Selama 1 jam film diputer gue berusaha nyari apa yang bisa jadi alasan film ini untuk ditonton. Gue tau film ini Cuma berdurasi 75 menit. Maka dari itu, 15 menit sisanya gue pasrah.Hasil akhirnya, yah sudah tertebak.   Monoton dan mengecewakan.
Di menit awal film dibuka beberapa figuran dan pemain yang memperlihatkan kepayahan skenario. Kolaborasi yang pas antara pemain yang seperti tidak melewati proses readingplus skenarion kebutan. Filmnya Layaknya dibuat secara kilat untuk menghemat biaya produksi dan cepat-cepat tayang di bioskop. Emang sih ada bebrapa film yang dibuat dengan waktu singkat dan secara gamblang mengaku untuk menghemat biaya produksi, tapi buktinya film “Pocong 2” pun yang  dibuat dalam waktu 1 minggu bisa menunjukkan kualitasnya. Malah disebut-sebut salah satu film horror yang sukses secara kualitas. Jelas ini Cuma persoalan ketelitian sineas itu sendiri.
Koya atau Nayato masih setia dengan formulanya sendiri, yakni sosok hantu yang demen ngilang-ngilang ga jelas. Koya terpaku akan alur dan setting yang membosankan sehingga filmnya terkesan dibuat secara terburu-buru tanpa memperhatikan detail-detail filmnya sendiri. Bukan sesuatu yang fatal bagi penonton awam, tapi buat penonton kayak gue justru detail-detail tersebut yang bikin gue slalu dan slalu membuat review bernada sejenis setiap kali membuat review film Koyato (Koya-Nayato)
Entah mengapa pula, dengan cara bertutur demikian gue lebih sreg kalo judul “Pelet Kuntilanak” diganti dengan judul “Pelet Celana Dalam”. Gue kurang bisa ngerti gimana ceritanya mbak kunti diseret-seret dalam film ini (yah meskipun yang neror tokoh-tokohnya emang kuntilanak). Apa motifnya pun ga jelas. Sosok kuntilanak dihubung-hubungkan dengan persekutuan celana dalam. Jelas, ini ga masuk akal gue. Ngaco-lah..
Mengikuti alur film ini, jujur cuma bikin pusing. Filmnya terseok-seok akibat skenario basi. Castnya pun mengecewakan. Jadinya film ini ga lebih dari pengulangan film-film Koyato yang telah terlebih dahulu dirilis. Keabisan ide dan akhirnya semakin kesini semakin ngaco.
Kecacatan tak lepas dari awal film sampai di kredit title pun terjadi. Tulisan “mamaksa” yang seharusnya “memaksa” tak bisa ditolerir. Apalagi tulisan ini muncul sebagai pesan dari filmnya sendiri. Bener-bener jeli nih mata gue. Sampai-sampai detail-detail pun gue pantengin. Dan begitu akrabnya pun gue dengan film-film Koyato =D
Finally, gue rasa “penasaran” adalah hal utama untuk menonton film ini. Ga ada alesan lain untuk nonton film yang entah keberapa kalinya melibatkan sosok ‘kuntilanak’ sebagai jualannya. Lantas adakah alasan lain yang membuat film ini layak buat ditonton? Gue rasa, ga ada. Dari cast, cerita yang diusung, sampe hal yang yang lebih spesifik pun ga ada.
Iklan