Review : Pengejar Angin (2011)


Putaar Production & Pemprov Sumsel
Cast : Qausar Harta Yudana, Mathias Muchus, Wanda Hamidah, Lukman Sardhi, Agus Kuncoro, Siti Helda Meilita.
Release Date : November 3, 2011
Director : Hanung Bramantyo
Rate Description :
O: Rubbish – 1 : Dissapointing – 2 : Ordinary – 3 : Good – 4 : Very Good – 5 : Recomended!

Minim promosi dan tidak terdengar proses pembuatannya, film berbandrol sutradara besar Hanung Bramantyo dirilis. Sebelum menyaksikan film ini, setidaknya ada dua alasan yang bertentangan untuk menonton atau tidak menonton film ini. Alasan menontonnya jelas karena sutradaranya adalah salah satu dari pencetak film berkualitas. Namun dari segi visual, poster filmnya terasa kurang greget. Promosinya yang kurang bergaung menjadikan nilai kurang untuk menontonnya. Apalagi sekarang bioskop tengah dibanjiri film hollywood yang begitu menggoda. Jelas menjadi suatu kebingungan untuk memutuskan apakah menonton film ini atau memilih film hollywood dengan hasil akhir yang lebih menjanjikan. Namun akhirnya saya putuskan untuk menonton filmnya.
Di sebuah kampung di daerah Lahat Sumatera Selatan, tinggal seorang remaja bernama Dapunta (Qausar) yang sebentar lagi akan lulus SMA dan harus menentukan ke mana masa depannya harus melangkah. Ibu Dapunta (Wanda Hamidah), sebenarnya sangat ingin agar Dapunta yang cerdas, melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah, tapi masalahnya sang Ayah (Mathias Muchus) menentangnya. Ayahnya itu lebih menginginkan Dapunta yang dikenal sebagai pengejar angin, julukan bagi pelari tercepat di kampung itu, untuk melanjutkan jejaknya sebagai pemimpin dari para Bajing Loncat di Kampung mereka. Sampai suatu hari, Dapunta memberanikan diri untuk mengatakan kepada ayahnya bahwa ia mempunyai mimpi. Dan untuk itu, ia harus sekolah. Ia harus kuliah. Dengan cara apapun. Dibantu oleh Nyimas, cinta pertamanya, Pak Damar (Lukman Sardhi), seorang guru muda berbakat yang melihat potensi yang tak terbatas dari Dapunta, dan juga Husni sahabatnya, Dapunta pun mulai mengejar mimpinya. Sayangnya itu semua tidak mudah. Selain kenyataan bahwa ia adalah anak seorang bajing loncat yang kemudian membuat ia dibenci oleh teman sekolahnya, ia pun juga harus berhadapan dengan Jusuf, rival sejatinya. Jusuf yang juga sama cerdas dan berbakat dengan Dapunta, sejak awal memang sudah membenci Dapunta. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa ada orang lain di sekolah itu yang mampu menandingi kecerdasannya. Ia pun dengan sekuat tenaga mencoba untuk membuat hidup Dapunta menjadi sulit. Belum lagi, kepala sekolah yang tidak simpatik dan tidak peduli dengan potensi murid-muridnya, ikut membuat mimpi Dapunta semakin penuh dengan rintangan. Namun Dapunta tidak menyerah. Apalagi ketika Coach Ferdy (Agus Kuncoro), teman lama Pak Damar yang juga seorang pelatih lari nasional dari Jakarta melihat bakat Dapunta yang sesungguhnya. Pemuda berjuluk “pengejar angin” ini pun akhirnya menemukan jalan lain menuju mimpinya (21cineplex.com)
Diawal film, penonton disuguhi adegan yang begitu gelap yang menjelaskan karakter ayah sang tokoh sentral. Cukup berhasil walaupun mungkin kurang menarik penonton. Film kemudian bergerak ke tokoh Dapunta yang menjalani kehidupan dan perjalanan mewujudkan cita-citanya. Didalam filmnya juga tidak lepas dari masalah sosial budaya yang sudah sangat sering ditampilkan di film-film rilisan Indonesia. Dalam hal ini tokoh Dapunta yang memiliki rival, seorang siswa yang juga termasuk pintar disekolahnya. Filmnya berjalan meceritakan persaingan yang terjadi antara tokoh Dapunta dan Jusuf.
Secara keseluruhan, cast cukup apik dalam membangun emosi dan memainkan karakter masing-masing. Mathias Muchus tampil rapi. Begitupun dengan Qausar Harta Yudana sang tokoh utama, Lukman Sardhi dan aktor pendukung lain yang dapat menyatu. Pemilihan cast yang bisa dibilang sempurna. Emosi yang disampaikan Qausar meyakinkan penonton dan menjelaskan apa yang ada dalam karakternya dilakukannya dengan baik. Filmnya membuat penonton terjaga untuk terus mengikutinya. Alasan tidak menonton filmnya dikarenakan tampilan luar yang kurang menarik, terpatahkan. Namun, jujur tidak ada hal yang baru yang ditawarkan film ini. Tokoh utama yang hidup dalam masalah ekonomi, dan bercerita tentang pendidikan, dan cita-cita. Tema sejenis tahun ini, belakangan di tampilkan dalam film karya John De Rantau‘Mestakung’, dan ‘Tendangan Dari Langit’ yang kebetulan juga di sutradarai oleh Hanung Bramantyo sendiri. Patut disayangkan, benar-benar tidak ada formula baru dari filmnya. Yang berbeda hanyalah tokoh, masalah, serta cara dari menyelesaikan cerita yang akhirnya happy ending. Selebihnya, semuanya terlihat seperti comotan.
Anggapan lain yang berhasil saya simpulkan adalah, film ini adalah film ngebut yang dikerjakan untuk persiapan Sea Games 2011 yang sebentar lagi akan ramai diperbincangkan negara seasia. Kabar baiknya adalah filmnya berhasil tampil tanpa kesan terburu-buru dalam pembuatan maupun penyelesaian saat menontonnya. Filmnya menginspirasi, dan ditujukan untuk membangkitkan semangat, tidak lebih. Dengan hasil akhir seperti ini, ‘Tendangan Dari Langit’ jelas masih jauh lebih unggul, namun film ini tetap berhak direkomendasikan untuk remaja yang bersandang ke bioskop sepulang sekolah, ketimbang memilih untuk menonton film dedemit dan kawan-kawan ataupun film Indonesiayang minim pesan moral 🙂
Iklan