Review : Pirate Brothers (2011)


Directed : Asun Mawardi

Cast : Robin Shou, Imd Verdy Bhawanta, Mario Fernando De Silva, Yayuk Aw Unru, Andre Lincoln Suleiman,  Karina Nadila
Release Date : 26 May 2011
 Sangat disayangkan apabila sebuah film yang berpotensi untuk sukses secara kualitas sekaligus menghibur kemudian harus melepas sandangan tersebut karena beberapa aspek. Menurut gue ni ya, ada tiga macam perbedaan yang mendasar terhadap sebuah film. Pertama, lahir sebuah film yang berkualitas namun terasa berat untuk disukai penonton. Kedua, film yang hanya berdiri sebagai film yang menghibur bagi penontonnya namun dari segi kualitas masih atau bahkan dikatakan tidak berhasil. Ketiga, film tersebut dari segi hiburan maupun kualitas berhasil dengn baik dipadukan sehingga film tersebut bisa diminati penonton atau di serbu penonton. Perbedaan inilah yang sangat sering terjadi di banyak film-film yang telah atau belakangan beredar. Ketika sebuah film berkualitas dirilis, kebanyakan dari film berkualitas tersebut sulit untuk meraup jumlah penonton yang banyak. Sebaliknya film yang kurang atau tidak kualitas namun sukses di tonton banyak orang. Hasil terbaik adalah film tersebut adalah film yang berkualitas dan sarat akan hiburan. Tentu tidak sayang rasanya apabila film tersebut laris karena dapat mendorong produser dan sineas-sineas lain untuk memproduksi film sejenis. Hal ini yang terbukti terjadi terhadap film dari Asun Mawardi yang terus terang gue cek di google ga nemu-nemu biografinya. Katanya dia sutradara film dokumenter ‘1 Tahun Tsunami Aceh’.

 

Pirate Brothers berkisah tentang dendam anak miskin, yatim piatu, yang bernama Sunny (kecil). Kakak angkatnya dibunuh geng tatto. Sunny kemudian tinggal di panti asuhan dan kemudian bertemu Verdy (kecil) dan bersahabat layaknya saudara. Sampai suatu saat Verdy diadopsi dan dijadikan pewaris harta orang kaya. Sunny dan Verdy berpisah. Scene kemudian loncat ke 20 tahun dimana Sunny (Robin Shou) bergabung dengan kelompok bajak laut, dan Verdy (Imd Verdy Bhawanta) menjadi pengusaha kaya raya yangmewarisi harta orangtuanya memiliki tunangan bernama Melanie (Karina Nadila). Tragedi mulai memanas ketika Verdy mengirimkan barang rahasia yang menjadi incaran kelompok bajak laut. Melanie disandera kelompok bajak laut termasuk Sunny. Disana Verdy dan Sunny kembali bertemu. Sunny yang tau saudara kecilnya dalam masalah berusaha membantu Verdy.

Film ini sebenernya bisa dikatakan film kategori ketiga yang tadi gue bilang. Film ini bisa jadi jenis film yang punya kualitas dan menghibur dengan adegan laga bak film-film hollywood. Jelas sudah bukan rahasia, film berbau laga kayak gini banyak disukai penonton.  Tapi ternyata sulit buat gue mengkategorikan film ini sebagai perpaduan antara kualitas dan hiburan. Terus terang pas film diputer sampai menit ke 55 gue ngerasa film ini gak ada apa-apanya. Akting pelakon cilik-nya parah, dialognya payah, sinematogfari suram dan ga memanjakan mata bahkan gue ngerasa lagi nonton sinetron tahun 90-an. Sampai di menit tersebut gue ngerasa film ini kayaknya diproduksi secara terburu-buru akhirnya hasilnya mengecewakan.

Adegan laga-nya kemudian dominan setelah film berjalan lebih dari satu jam. Yang paling mengganggu aspek lain yang menurut gue udah lumayan bagus adalah musik sepanjang filmya yang gue denger kayak terinspirasi dari anak-anak, power rangers. Gue juga bingung kenapa gue jadi se-kritis ini dalam menonton film tapi yang gue denger emang musiknya ganggu banget. Kasian efek tembakan, dan aksi laganya yang udah bagus. Kayak makan sepotong donat yang isinya udah enak tapi penampilan luarnya yang tidak menarik untuk dimakan. Itu  penggambaran gue tentang musik yang “ga banget” sepanjang film ini ditonton. Bicara soal aking pemeran dewasanya gue fine aja termasuk Robin Shou, aktor luar yang bisa kita liat bersama-sama menggunakan satu khas negara kita, batik. I think, it’s a exciting scene!

Overall aspek “penghambat” yang gue maksudkan di paragraf pertama review ini adalah scene menit pertama sampe menit ke-55 yang memperlihatkan betapa lemahnya pemain dan sinemtografinya plus musik sepanjang film yang sangat mengganggu. Harusnya scene 1/55 tesebut bisa diperbaiki agar hasilnya bisa lebih maksimal. So, gue bingung mau nempatin film ini dikategori film yang hanya menghibur namun tanpa adanya kualitas, atau di kategori film menghibur namun tetap berkualitas. Kembali ke penonton masing-masing, mau menempatkan film ini di kategori yang mana 🙂

Iklan