Review : Pupus (2011)


Directed : Rizal Mantovani

Cast : Donita, Marcell Chandrawinata, Kaditha Ayu, Arthur Brotolaras, Ichsan Akbar, Vicky Monica
Release Date : 26 May 2011

RATE (1-5): Tidak masuk kategori bintang
Sebuah drama yang gagal dan dangkal dari Rizal Mantovani.  Jikalau mengharapkan dapat menikmati drama yang manis, maka pupus bukanlah pilihan yang tepat. Pupus membuat sang sutradara semakin terpuruk di tahun 2011 yang berawal dari Jenglot Pantai Selatan(2011), Cewek Gokil (2011), sampai di film ini. Entah apa yang terjadi dengan Rizal Mantovani yang semakin kesini karya-karyanya semakin “ngaco” dan bisa dibilang “ga penting”.
Film Pupus bercerita tentang Cindy (Donita) yang memiliki keinginan untuk kuliah di Jakarta. Sampai akhirnya Cindy jatuh cinta sama seniornya, Panji (Marcell Chandrawinata) yang selalu membuat Cindy penasaran dan selalu memupuskan setiap harapan-harapan Cindy. Panji seolah mematikan perasaan-perasaan Cindy. Sampai akhirnya Cindy tau kabar dari sahabat Panji kalo Panji terkena penyakit Kanker stadium 4. Alasan ini yang membuat Panji meninggalkan Cindy.
Tidak berlebihan rasanya kalo gue bilang film ini ga layak ditayangin di bioskop. Masih banyak banget FTV yang kualitasnya jauh lebih baik dari film ini baik dari segi gambar, sampe ceritanya. Seharusnya dengan skenario yang biasa, Alim Sudio bertugas keras membangun cerita demi cerita agar ga jadi “basi dan membosankan” seperti ini. Sumpah!
Sebagian besar penonton hanya akan terseok-seok mengikuti alur demi alur yang ga jelas, ribet dan jatuhnya malah membosankan. Lebih parah alur khas FTV remaja yang putus cinta dan ga mau makan, serta plinplan menentukan pilihan.
Yang gue liat, ga ada usaha dari sutradara apalagi penulis skenarionya untuk membuat film ini menjadi film yang layak tayang dibioskop. Scoringnya ga ada bedanya sama yang ada di FTV-FTV yang diputernya siang bolong atau tengah malem. Dan gue sama sekali ga ngerasa lagi nonton di bioskop. Entah sebobrok apa film ini. Filmnya berjalan “sempoyongan” dan ga berhasil ngasih apa-apa ke gue. Nama karakternya pun gue mesti cek ulang di sinopsis 21cineplex.com pas bikin review ini saking “ga berasa”-nya film ini. Boro-boro mau nikmatin film ini, masuk diakal dulu aja enggak sama sekali.  Skenario adalah hal paling menyakitkan untuk film ini ditayangkan dengan poster yang begitu cantiknya. Dan itu yang membuat gue memprediksikan film ini akan meraup penonton-penonton yang memilih film ini karena melihat keindahan posternya.
Di catetan gue, banyak banget “tanda tanya” yang membuktikan film “ngaco” ini ga masuk diakal gue sebagai penulis review ini. Pertanyaan terbesar gue dan gue yakin jadi pertanyaan terbesar juga buat penonton lain adalah, Kenapa butuh waktu yang bertahun-tahun lamanya untuk bisa menggambarkan cerita yang diangkat? Padahal durasinya aja seuprit, sok-sok-an banget sampe 5 taunan. Terlebih kepada kebetulan-kebetulan yang sama sekali “ga rasional” padahal yang gue tau, emang film kadang mengandung unsur “tidak masuk akal” tapi mitos ini berusaha keras di tambal sang sineas agar se-bisa mungkin membuat filmnya bisa diterima masyarakat luas dan tentunya bisa diterima akal sehat juga. Di film “Pupus” ini, itu semua ga ada.
Perpaduan antara skenario dangkal dan sutradara lesu, jawabannya adalah film ini.
Filmnya hanya mengeksplor “kecantikan” Donita semata yang gue rasa juga tanggung tampil di film ini. Ga lebih. Marcell Chandrawinata??  No comment.
Inilah puncak terpuruknya sutradara yang entah mengapa terus menghasilkan film-film yang tanpa kehadiran film-film tersebutpun tidak mempengaruhi perfilman Indonesia, bahkan rasanya hanya membuat kualitas film indonesia semakin menurun dan akhirnya terjatuh. Padahal ia pernah berhasil dalam Kuldesak, Tusuk Jelangkung dan trilogi Kuntilanak yang sukses berat di pasaran.
Iklan