Review : Purple Love (2011)


Directed : Guntur Soeharjanto

Release Date : 12 May 2011
Cast : Nirina Zubir, Pasha, Oncy, Kirana Larasati, Makki, Enda, Rowman, Henidar Amroe, Qory Sandioriva, Djenar Maesa Ayu, Unang, Imey Liem.
RATE (1-5) : 1 Bintang
Purple Love bisa jadi film istimewa untuk para “Cliquers” ataupun ABG yang suka dengan band Ungu. Menonton film ini dihari pertama rilis membutuhkan perjuangan buat gue. Gimana enggak, setelah panas-panasan menuju XXI, sampe harus hopeless nunggu rol film ini nyampe (niat banget) gue jujur kecewa dengan film ini. Formula seperti ini telah banyak di rilis diantaranya film The Tarix Jabrix (The Changcuters) , Seleb Kota Jogja (SKJ), Baik-Baik Sayang (Wali). Apalagi melihat nama Nirina Zubir didalamnya, gue cukup optimis sama film ini.
Film dibuka sang vokalis Pasha (Pasha Ungu) yang kemudian diputuskan oleh pacarnya, Lisa (Qory Sandioriva). Yang kemudian teman-temannya berusaha “menyembuhkan” Pasha dari patah hati yang begitu dalam dengan meminta bantuan seorang penderita penyakit kanker jantung Talita (Nirina Zubir) “Purple Heart”. Selama itu pula Talita berusaha membuat Pasha bisa kembali seperti dulu lagi. Membuang jauh kesakitannya dan membuka kehidupan yang baru. Setelah berhasil mengembalikan keceriaan Pasha, Talita mulai menjodohkan Pasha dengan Shelly (Kirana Larasati) yang akhirnya malah jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Oncy (Oncy Ungu). Date rancangan Talita yang gagal membuat Pasha meminta Talita menghentikan usaha Talita. Pasha kemudian jatuh hati dengan Talita sampai memutuskan berencana menikahi Talita. Permasalahan lalu muncul ketika Lisa tiba tiba kembali ke kehidupan Pasha.
Sampai menit ke 25 film ini seperti belum menemukan jati dirinya.
Adegan demi adegan ga tertata rapi, dan beberapa adegan menurut gue sok asik dan ga banget.  Mungkin karena skenario yang cukup basi dari Cassandra Massardi, film yang sebenernya bisa dibuat lebih baik ini akhirnya jadi film yang super tanggung. Guntur Soeharjanto seolah-olah kesulitan membangun scene “sweet” di film ini.
Sepanjang film gue Cuma denger lagu-lagu hits ungu di tambal dengan jeritan-jeritan ABG yang klepek-klepek liat idola mereka. Ini yang gue maksud tadi. Film ini bisa jadi film spesial buat mereka, tapi gue enggak.
Menurut gue,film  ini ga lebih baik dari film Guntur Soeharjanto sebelumnya yang mungkin kagok harus mendirrect anak band.  Jadinya, banyak banget adegan adegan yang menurut gue ga dapet. Garing. Ga se-renyah Popcorn yang gue makan.
Satu satunya yang cukup menghibur dan bisa bikin gue nyegir dari film ini ga lain perfom dari Kirana Larasati dan Oncy yang kalo gue lihat cukup berhasil memerankan tokoh masing-masing.
Chemistry antara Pasha dan Nirina,Pasha dan Qory, Flat. Bahkan menurut gue Pasha  ga bisa ngimbangin Nirina. Meskipun tidak tampil buruk dalam film ini, rasanya untuk ukuran Nirina Zubir, ini bukan sebuah prestasi. Jelas ini bukan penampilan terbaik Nirina. Padahal gue cukup kangen Nirina main film lagi.
Walaupun begitu, gue memprediksi film ini bisa bertahan di bioskop tanah air 2-3 minggu kedepan. Melihat animo masyarakat akan band Ungu, gue yakin film ini bakal laris dipasaran. Diburu ABG sepulang sekolah dan ibu-ibu pecinta band Ungu terkhusus, Pasha. Hasil akhirnya, film ini ga sesuai dengan ekspektasi gue. That’s it…
Iklan