Review : The Mirror Never Lies (2011)


Director : Kamila Andini

Produser : Garin Nugroho & Nadine Chandrawinata
Cast :  Atiqah Hasiholan, Gita Lovalista, Reza Rahadian, Eko, Zainal, Halwiyah, Darsono
RATE (1-5) : 4 Bintang
Kamila Andini, jujur gue baru denger nama sutradara ini. Usut punya usut ternyata kamila anak dari surtadara kawakan Garin Nugroho.
Melihat nama Garin Nugroho dibelakangnya gue rada optimis sama film ini. Apalagi castnya sangat menjanjikan. Atiqah Hasiholan, Reza Rahadian bukan sembarang aktris. Akhirnya gue bisa nyimpulin beberapa hal dari film ini. Yang paling harus disadari adalah menbedakan apa “keinginan” penonton ketika berkunjung ke bioskop. Apakah mencari hiburan atau kualitas. Kalo mencari kualitas, menurut gue film ini berkualitas. Ada nama nama kru yang udah malang melintang “mengerjakan” film film berkualitas lainnya. Tapi kalo mencari hiburan, film ini bisa dibilang jauh dari bumbu hiburan. Meman ada beberapa scene yang bisa membuat kita tertawa, tapi selebihnya bakal melongo sambil nunggu kedatangan ayah Pakis (Gita) yang ga kunjung dateng.
Mendengar beberapa komentar penonton lain dan beberapa teman dekat, saya agak pesimis film ini ga bisa bertahan lama. Bahkan beberapa dari mereka yang sebenarnya mengakui keindahan dan keluarbiasaan sinematorgrafi yang ditawarkan Ipung Rahmat Syaiful namun merasa film ini cukup membuat mereka ngantuk. Hmm.. Saya pribadi, ga. Maybe mereka masih agak sulit mencerna cara bertutur sang sutradara yang emang The Mirror Never Lies karya pertamanya. Inilah perbedaan penonton. Dimana penonton awam hanya akan bosan dengan film ini.
Pakis (Gita) melakukan ritual suku Bajo di mana mereka percaya dengan menggunakan cermin, Pakis berharap dan terus menanti melihat bayangan ayahnya. Ibunya, Tayung (Atiqah) setiap harinya memikirkan nasib keluarganya. Hal ini membuat ia memakai beda diseluruh wajahnya dalam sepanjang film dimana itu sebuah tradisi dari suku Bajo. Ia berusaha menutupi kesedihannya. Bersama sahabatnya, Lumo (Eko) Pakis tak hentinya menggantungkan harapan akan kembalinya ayahnya. Persoalan dan konfik Pakis dan ibunya semakin berangsur-angsur ketika Tudo (Reza) seorang peneliti Lumba-Lumba datang ke kehidupan mereka. Keempat tokoh inilah yang saling berinteraksi dalam kehidupan sehari hari dan mereka mempunyai penafsiran tersendiri akan laut di Wakatobi. Namun mereka akhirnya sepakat bahwa itulah yang membantu mereka menemukan jati diri yang sebenarnya.
Gue akhirnya menyimpulkan (lagi) film ini lebih menceritakan lewat simbol-simbol yang emang butuh keseriusan dalam mencernanya. Misal, si tokoh Tayung (Atiqah Hasiholan) yang setiap harinya make bedak hampir disepanjang film. Mungkin penggambarannya adalah tokoh Tayung diceritakan ga mau terlihat sedih, ataupun ga mau terlihat ekspresi lainnya pasca hilangnya suaminya. Pokoknya film ini penuh dengan simbol yang kalo kita “mau” delemin bakal bisa ngerti apa yang mau disampaikan sang sutradara.
Dari segi cast, gue ga salah. Sang bintang sabun, memukau di sepanjang film. Pesonanya sama skali ga berkurang meskipun dengan “topeng” sepanjang film.  Reza Rahadian yang juga sebagai pemanis film ini tampil sangat sangat rapi. Begitupun Gita (Pakis), Eko (Lumo), dan pendukumg lainnya, patut diacungi jempol.
Yang bikin gue ngiri sama film ini, adalah sinematografi yang bener bener berhasil nampilin keindahan wakatobi. Angle-anglenya bagus. Scene Pakis yang telentang di air biru nan jernih bener bener bikin mata gue silau. Indonesia patut berbangga akan keindahan ini!
Kayaknya sepanjang review yang gue bikin ini, gue banyakan ngomong soal hasil penyimpulan gue. Ini juga nih perbedaan bikin review film “biasa” dan film “berat” kayak gini. Gue sulit nemuin kekurangan film “simbol” ini.  Buat gue film ini pantes buat didalemin, meskipun kurang berpeluang memenuhi kursi kursi bioskop meski di hari libur.
Iklan