Review : Hafalan Shalat Delisa (2011)


Starvision

Cast : Chantiq Schagerl, Reza Rahadian, Nirina Zubir, Ghina Salsabila, Reska Tania Apriadi, Riska Tania Apriadi, Al-Fathir Muchtar, Mike Lewis, Loide Cristina Teixeira
Director : Sony Gaokasak
Release Date : December 22, 2011

Rate Description :
O : Rubbish – 1 : Dissapointing – 2 : Ordinary – 3 : Good – 4 : Very Good – 5 : Recomended!

Tren based on novel masih digemari sineas kita.  Setelah Sang Penari yang menggugah beberapa waktu lalu, di penghujung tahun 2011, kita disuguhi Hafalan Shalat Delisa yang diangkat dari novel berjudul sama karya Tere Liye. Memang bukan menjadi hal yang mudah dalam membuat sebuah film yang ceritanya diangkat dari bencana alam. Tsunami Aceh 26 Desember 2004 menjadi bencana terbesar yang pernah terjadi dan begitu membekas diingatan banyak orang. Maka inilah pembuktian seorang Sony Gaokasak, sutradara yang sebelumnya membesut film Tentang Cinta di tahun 2007.

Delisa (Chantiq Schagerl) gadis kecil kebanyakan yang periang, tinggal di Lhok Nga desa kecil di pantai Aceh, mempunyai hidup yang indah. Sebagai anak bungsu dari keluarga Abi Usman (Reza Rahadian), Ayahnya bertugas di sebuah kapal tanker perusahaan minyak Internasional. Delisa sangat dekat dengan ibunya yang dia panggil Ummi (Nirina Zubir), serta ketiga kakaknya yaitu Fatimah (Ghina Salsabila), dan si kembar Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apriadi). 26 Desember 2004, kejadian diawali dengan gempa dan kemudian tiba-tiba tsunami menghantam, menggulung desa kecil mereka. Sejak saat itu Delisa yang selamat atas bencana tersebut terpisah dari keluarganya yang sebagian telah meninggal. Delisa kemudian bertemu dengan Abinya, bangkit dan tetap bertahan dibalik rasa sedih dan kehilangan yang begitu mendalam.

Pada menit-menit awal filmnya terasa sangat meyakinkan dan berjalan mulus. Visualisasi bencana tsunami dengan efek CGI tidak boleh dibilang buruk. Tidak terdapat masalah besar dalam seluruh castnya meskipun dibeberapa scene terlihat aroma kesinetron-sinetronan yang bagusnya kembali bisa dikendalikan dengan baik. Aktor-aktris peraih Piala Citra, Reza Rahadian yang kali ini didaulat menjadi seorang ayah dari 4 orang anak, tampil begitu memukau dan menunjukkan kelasnya. Begitupun Nirina Zubir yang berhasil memerankan tokoh Ummi dengan cukup apik.  Chantiq Schagerl memerankan tokoh Delisha terhitung berhasil dan cukup mencuri perhatian sebagai pendatang baru.

Sayang, grafik filmnya justru menurun di menit 40 sampai film setelah mengkeberhasilan sang sutradara membangun atmosfir drama yang menyentuh di menit-menit awal. Semakin lama filmnya semakin mengalami penurunan grafik dan puncaknya pada 20 menit terakhir, terasa seperti digampangkan yang pada akhirnya memungkinkan timbulnya beberapa pertanyaan dari penontonnya.

Terlepas dari kekurangan yang terdapat dalam beberapa tempat, Sony Gaokasak patut diapresiasi akan keberaniannya dalam mengambil tantangan membuat film ini. Dalam hal tekhnis lainnya, Pujian patut diberikan kepada Tya Subiakto atas tata musiknya yang begitu kaya dan mampu menghadirkan Sebuah film yang sarat akan pesan moral dan tentunya layak ditonton.

Rilis di tanggal 22 Desember 2011, nampaknya film ini mengejar dua momen sekaligus. Hari Ibu dan memperingati bencana Tsunami yang memang berkaitan dengan filmnya sendiri. Sayang, hal ini justru menjadi kesulitan dalam meraup jumlah penonton dimana filmnya harus bersaing dengan fiilm hollywood yang notabene adalah film daftar tunggu bagi sebagian penikmat film dunia. Namun apapun itu, film ini tetap memiliki peluang yang tidak kecil, mengingat tema filmnya sendiri yang begitu mengundang untuk disaksikan.

Iklan