Review : Xia Aimei (2012)


Falcon Pictures

Cast : Franda, Samuel Rizal, Olga Lidya, Ferry Salim, Gilang Dirgahari, Shareefa Daanish, Jasmine Julia Machate, Norman Camaru.

Director : Alyandra

Release Date : January 12, 2012

Rate Description :
O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good -/ 5 : Recomended!!

Dalam perputaran film indonesia, tema human trafficking yang rasanya sudah beberapa kali diulas, seakan tidak ada habisnya untuk kembali diangkat. Kalau tahun lalu, film Batas karya Rudi Soedjarwo bercerita tentang perempuan korban human trafficking yang mengalami trauma. Diawal tahun ini kini kita disuguhi sebuah film dengan tema serupa. Promosi filmnya yang minim dan dirilis berdekatan dengan perayaan Imlek, Xia Aimei menjadi film indonesia ketiga yang membuka tahun 2012.

Ditinggal sang ayah dengan utang yang begitu besar membuat seorang gadis remaja asal desa, Yangshuo Guangxi, China terjebak dalam trafficking. Ia yang dijanjikan untuk mendapatkan pekerjaan halal malah dibawa ke Le Mansion, sebuah klub mewah milik Jack (Ferry Salim) yang banyak mempekerjakan perempuan asal China dan Uzbekistan sebagai penghibur bagi tamu-tamu yang bertandang kesana. Xia Aimei yang diberikan nama Xi Xi oleh Le Mansion, ditugaskan untuk melayani Bos Marun, kepala gangster di Jakarta. Takut dan merasa diperlakukan tidak pantas, Xi Xi mencoba kabur dan akhirnya bertemu AJ Park (Samuel Rizal), seorang cameramen underwater indonesia. Xi Xi meminta bantuan AJ Park untuk memulangkannya kembali ketempat asalnya. Namun sebelumnya Xi Xi harus mendapatkan pasportnya terlebih dahulu agar dapat kembali pulang ke desanya.  Usahanya mengambil pasportnya yang dibantu oleh teman sekamarnya, Lie Lie (Shareefa Daanish) dan Paula (Jasmin Julia Machate) terpaksa sia-sia setelah dirinya kembali ditangkap oleh Jack.

Terlepas dari posternya yang kurang menarik dan nampak jelas terburu-buru (terlihat di kesalahan pengaturan nama dan profesi crew dalam film ini yang jika diperhatikan secara seksama akan mudah ditemukan) Xia Aimei saya akui mengundang banyak rasa penasaran bagi penonton film Indonesia. Selain jarang sineas kita mengangkat etnis China, trailernya terasa begitu menggoda.

Menyaksikan Xia Aimei dengan durasi yang begitu singkat, saya dengan mudah merasakan penggarapannya terburu-buru dan hal tersebut dapat pula dirasakan oleh penonton awam sekalipun. Alyandra yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara video clip gagal membangun emosi antar pemain dan akhirnya menambah kelemahan filmnya. Satu-satunya poin yang bagus dari film ini adalah kepiawaian para castnya dalam berbahasa mandarin. Namun tetap saja hal tersebut tidak dapat menyelamatkan filmnyadari kelemahan-kelemahan yang ada. Skenario yang juga dikerjakan oleh sang sutradara bersama dua orang penulis lain penuh dengan kedangkalan dimana-mana.

Dari segi cast, Shareefa Daanish yang berperan sebagai Lie Lie, gadis yang berasal dari China adalah alasan salah satu alasan film ini bertahan untuk diterus ditonton. Penampilannya cukup mampu menarik perhatian. Disampimg itu, Franda yang untuk pertama kalinya mencicipi film layar lebar tergolong berhasil dalam berdialog mandarin. Sama halnya dengan Olga Lidya. Yang justru tampak gagal dalam film ini adalah penampilan Ferry Salim yang tidak lebih baik dari film sebelumnya, Semesta Mendukung. Jangan tanyakan tentang Samuel Rizal yang bermain dalam film apapun hasilnya akan tetap sama. Anda yang penasaran dengan sosok Norman Camaru dalam berakting dijamin tidak akan mendapatkan sesuatu yang baru setelah menyaksikan aksinya.

Akhir kata, Xia Aimei yang sempat membuat saya menaruh harapan besar untuk untuk filmnya sendiri, harus mengalah dengan hasil akhir yang begitu mengecewakan. Pesan moral yang hendak disampaikan sang sutradara-pun gagal digenggam. Yang ada hanyalah rasa penyesalan yang teramat besar. ‘Mengapa film ini tidak dikerjakan lebih serius saja’?

Iklan