Review : Republik Twitter (2012)


Cast : Laura Basuki, Abimana Aryasatya, Enzy Storia, Ben Kasyafani, Edi Oglek, Tio Pakusadewo, Jennifer Arnelita, Nina Tamam, Gary Iskak, Otig Pakis, Leroy Osmani.

Director : Kuntz Agus

Genre : Drama

Release Date : February 16, 2012

Running Time : 90 minutes.

Rate Description : O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Recomended!!

Selain berpengaruh bagi banyak orang, jejaring sosial memang telah mendunia. Tidak sedikit dari orang-orang memiliki account-account untuk beberapa jejaring sosial. Alasannya bermacam-macam. Ada yang menggunakannya untuk berhubungan dengan banyak orang dalam urusan pertemanan, urusan bisnis, bahkan tidak jarang digunakan untuk hal-hal yang negatif. Tahun 2010, beberapa dari sineas negeri kita telah menelurkan film tentang jejaring sosial facebook. Adalah Awi Suryadi dengan film ‘I Know What You Did On Facebook’ dan film horror ‘Setan Facebook’ yang dibesut Helfi CH Kardit. Facebook yang fenomenal, kemudian disusul jejaring sosial Twitter yang saat ini tengah digandrungi dan dipercaya menjadi cerminan diri seseorang.

Sukmo (Abimana Aryasatya) dengan bantuan temannya, Andre (Ben Kasyafani) datang ke Jakarta berniat menemui Hanum (Laura Basuki) gadis yang ia kenal lewat twitter. Ternyata, menemui Hanum bukan hal yang mudah. Adanya Gery (Gary Iskak) pria sukses yang mendekati Hanum membuat Sukmo mengurungkan niatnya. Sukmo lalu bekerja pada Belo (Edi Oglek) disuatu warnet yang menerima jasa, pembuatan dan pencitraan lewat jejaring sosial twitter. Hubungannya dengan Hanum merenggang. Sampai pada suatu waktu ia membantu Hanum yang berniat resign dari kantornya karena asa dengan memberi tahu pekerjaannya yang berhubungan dengan kampanya politik lewat twitter. Tindakan Sukmo kemudian mengundang amarah Kemal (Tio Pakusadewo) seorang pebisnis yang sering menciptakan pencitraan lewat twitter.

Kinerja yang dilakukan Kuntz Agus dibantu dengan skenario E.S Ito, terbilang berhasil dengan suksesnya mereka menampilkan realitas kehidupan mulai dari remaja ababil, twitter addict, sampai tokoh masyarakat. Jangan lupakan Aline Jusria, editor film favorit saya setelah ‘Minggu Pagi Di Victoria Park’ dan ‘Catatan Harian Si Boy’ yang dua-duanya di anugerahi piala citra untuk 2 tahun berturut-turut.

Berbicara dari jajaran pemainnya, Laura Basuki bermain manis disini. Perannya sebagai seorang wartawan investigasi junior yang berhasil ia perankan dengan cukup baik. Sayangnya, formula seperti ini rasanya sudah pernah ditemui dalam film ‘3 Hati 2 Dunia 1 Cinta’ yang juga menceritakan seorang gadis dengan hidup serba berkecukupan yang memiliki keinginan yang berbeda dengan orang tuanya. Oleh karena itu, Laura tidak akan mengalami kesulitan dalam pendalaman karakter yang nyaris mirip dengan karakter di film yang telah memberinya piala citra. Disamping itu, Republik Twitter seolah menjadi film pembuktian kualitas seorang Abimana Aryasatya yang tahun lalu cukup memukau lewat ‘Catatan Harian Si Boy’. Yang paling juara dalam film ini adalah aktor teater, Edi Oglek. Belo ditangannya menjadi begitu menarik.

Overall, Republik Twitter adalah film yang dikemas rapi dan mengajarkan banyak hal. Sesuai dengan penyataan sang sutradara, twitter menjadi salah satu mediasi dimana orang-orang bertemu, tumbuh, membesar, hancur dan hilang.

Iklan