Review : Seandainya (2012)


Cast : Dinda Hauw, Chris Laurent, Rendy Kjaernett, Cut Meyriska.

Director : Nayato Fio Nuala

Genre : Drama / Romance.

Running Time : 100 minutes.

Release Date : 23 February, 2012.

Rate Description : O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Recomended!!

Sebenarnya, film yang berkisah tentang tokohnya yang berpenyakit bukan baru-baru ini diangkat ke layar lebar. Namun kesuksesan ‘Surat Kecil Untuk Tuhan’ yang tahun lalu juga menjadi film terlaris membuat beberapa sineas kita menjadi latah untuk juga merilis film dengan pola demikian. Sebut saja, ‘Ayah, Mengapa Aku Berbeda’, ‘My Last Love’, ‘Malaikat Tanpa Sayap’ yang baru kemarin dirilis, dan kini kembali hadir ‘Seandainya’ film ketiga Nayato dalam kurun waktu 2 bulan.

Cinta (Dinda Hauw) hidup bersama ayahnya yang bisu. Pada suatu kesempatan, Cinta terkunci dalam perpustakaan bersama Arkana (Chris Laurent) menjadikan mereka mulai dekat dan akhirnya berpacaran. Arkana mempunyai kisah hidup sendiri. Orang tuanya tidak lagi bersama dan ia mempunyai cita-cita menajdi seorang musisi. Bersama Cinta, Arkana banyak mengalami cerita. Hubungan Cinta dan Arkana tidak mendapat restu dari Ayah Cinta. Cinta lalu memilih menghindari Arkana. Arkana membuntuti Cinta sampai ia mengalami kecelakaan ringan. Pada akhirnya Arkana mengetahui bahwa Cinta menderita Leukimia. Arkana kemudian membuktikan rasa cintanya kepada Cinta dengan mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk kekasih yang ia cintai

Tidak ada yang beda dengan gaya bertutur Nayato dengan film-film yang ia rilis sebelumnya. Entah mengapa ia seringkali mengeksploitasi hujan untuk mendramatisir beberapa adegan. Musiknya sepanjang film yang minim henti merupakan ciri khasnya. Lokasi pengambilan gambar yang berada di tempat-tempat yang sama dengan film-film terdahulunya semakin membuat saya bosan menyaksikannya. Apakah Nayato telah membooking lokasi-lokasi tersebut untuk puluhan bahkan ratusan filmnya kedepan? Mengingat ia adalah sutradara yang sangat produktif.

Sampai saat ini 4 film telah Dinda Hauw bintangi. ‘Seandainya’ masih setia memberinya peran yang tidak jauh berbededa dari debut suksesnya dalam ‘Surat Kecil Untuk Tuhan’. Mendapatkan peran tersebut seperti sudah menjadi stereotipnya, membuat Dinda Hauw tidak mengalami kesulitan dalam memerankan karakter Cinta. Namun hal tersebut menitipkan tugas berat yaitu meyakinkan banyak orang bahwa ia bukanlah aktris spesialis untuk film berkarakter sejenis jika suatu saat mendapatkan peran yang berbeda.

‘Seandainya’ adalah sebuah film dimana semua kejadian didalamnya terjadi dengan begitu instan dan mengalami ketidaklogisan dimana-mana. Kolaborasi antara skenario yang dangkal dan proses penggalian karakter yang gagal membuat Nayato kembali mengulang kegagalan yang terjadi pada film ‘My Last Love’ di bulan lalu. Tidak ada alasan lain untuk terus bertahan menyaksikan film ini selain Dinda Hauw yang ternyata masih mampu memesona meski telah bermain di 2 film yang perannya tidak memiliki perbedaan yang berarti.

Iklan