Review : Keumala (2012)


Cast: Nadia Vega, Abimana Aryasatya, Cut Yanti, Ismaludin, Mahdi.

Director : Andhy Pulung.

Genre : Drama / Romance.

Running Time : 106 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Sebelum menyaksikan film, ada baiknya anda melihat credit titlenya terlebig dahulu. Hal ini berdampak banyak. Anda akan mudah memilih film mana yang anda akan atau tidak nonton. Setidaknya hal demikian mutlak saya lakukan. Film Keumala pertama kali saya ketahui melalui poster yang dipasang di bioskop. Andhy Pulung adalah sutradaranya. Siapa dia? Mungkin pertanyaan tersebut akan banyak muncul, mengingat film ini adalah debut dari Andhy Pulung. Andhy pulung adalah editor untuk beberapa film seperti King, Hari Untuk Amanda, Tanah Air Beta, Under The Three dan Saus Kacang.

Senja, momen alam paling indah telah menyatukan penulis novel dan pembuat sketsa, Keumala (Nadia Vega) dengan Fotografer, Langit (Abimana Aryasatya) kemudian mengurai kisah masing-masing. Langit yang tengah melakukan pelarian dengan mengadakan pameran foto di sebuah kapal. Sedangkan Keumala seorang penulis dan pembuat sketsa yang tengah mengerjakan suatu proyek baru. Pertemuan yang dimulai melalui perdebatan membuat mereka mengusik kredibilitas mereka masing-masing, namun justru dari sini ‘rasa’ itu muncul. Setelah itu mereka berpisah. Setibanya di Sabang, Keumala lalu menderita retinitis pigmentosa, sebuah penyakit yang berujung kebutaan. Langit datang untuk menemui dan mengisi hari-hari Keumala ditengah kesendirian dan kebutaan yang dialaminya.

Nadia Vega mampu memerankan tokoh Keumala dengan sangat baik. Lewat gesturnya ia berhasil menggambarkan sosok Keumala dari kesehariannya, menderita penyakit retinitis pigmentosa dan mengalami kebutaan. Jelas penampilannya jauh lebih baik dari apa yang ia berikan dalam film Leak. Sementara Abimana dalam film ketiganya ditahun 2012 ini juga mendulang hasil yang sama. Tokoh Langit ditangannya menjadi cukup manis.

Film Keumala menyuguhkan banyak kepuitisan. Bersetting di Sabang dan mengambil banyak gambar diatas kapal laut dalam melakukan pejalanan Jakarta-Medan, sayangnya Alur yang ditawarkan film ini terlampau lambat. Rasanya terlalu panjang untuk menjelaskan inti filmnya. Sebenarnya jika mau, ada cerita kehidupan Inong yang masih bisa dimaksimalkan. Nasib akhir Inong tidak jelas bagaimana. Padahal dari awal, karakter Inong sudah cukup kuat dan punya alasan untuk dijelaskan.

Satu lagi yang menganggu. Entah dari pihak bioskop yang melakukan pemutaran atau dari proses editing yang dilakukan pembuat filmnya, dibeberapa scene awal, film  ini mengalami ‘kemacetan’ seolah-seolah sedang menonton dvd usang. Beruntungnya hal tersebut tidak berlangsung sampai ketengah bahkan keakhir film, sehingga penonton masih bisa fokus menyimak keumala tanpa harus mengeluhkan gangguan tersebut.

Bersamaan dengan dirilisnya Negeri 5 Menara, Keumala tampil tanpa banyak promosi. Film ini dikemas dengan konsep drama-dokumenter. Namun jika tanpa alur yang lambat, percayalah Keumala sesungguhnya adalah film dengan dua tokoh utama yang puitis dan mampu tampil sebagai drama yang manis.

Iklan