Review : Negeri 5 Menara (2012)


Cast: Gazza Zubizareta, Billy Sandy, Ernest Samudra, Rizki Ramdani, Jiofani Lubism Aris Putra, Ikang Fawzi, Lulu Tobing, David Chalik, Donny Alamsyah, Andhika Pratama, Ario Wahab, Eriska Rein.

Director : Affandi Abdul Rachman.

Genre : Drama / Adventure.

Running Time : 120 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Apa jadinya jika novel seanyar Negeri 5 Menara diangkat menajdi sebuah film? Akan menjadi sesuatu yang menarik tentunya. Novel Negeri 5 Menara yang rilis sejak juli 2009, adalah novel yang laris. Pembacanya pun tidak sedikit. Maka memberikan ekspektasi yang besar adalah kewajaran. Hal semacam ini setidaknya pernah terjadi dibeberapa film seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Laskar Pelangi.

Negeri 5 menara bercerita tentang Alif (Gazza Zubizareta) seorang anak yang melanjutkan sekolahnya di Pondok Madani, sebuag pesantren di sudut ponorogo oleh keinginan Ibunya (Lulu Tobing). Diantar oleh Ayahnya (David Chalik) Alif berhasil lulus dalam seleksi siswa baru Pondok Madani. Alif yang awalnya sering menyendiri kemudian menemukan teman-teman seperti Baso (Billy Sandy), Said (Ernest Samudra), Atang (Rizki Ramdani), Raja (Jiofani Lubis), dan Dulmajid (Aris Putra). Mererka berenam kemudian bersahabat dan mencoba meraih mimpi untuk menaklukan dunia dan mengunjungi menara impian mereka masing-masing.

Jika berbicara secara keseluruhan, Sejujurnya tidak ada sesuatu yang menarik dari film ini. Formula yang digunakan film ini pernah diangkat dibanyak film yang mengangkat anak-anak yang mencoba meretas kesuksesan lewat pendidikan. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam menggunakan formula tersebut. Produksi film dengan formula yang sama adalah hal yang sah-sah saja. Namun ada satu tugas berat yang  dibebankan kepada sutradara film yang menggarap film berdasarkan novel. Mampukah deretan crew memenuhi ekspektasi penonton? Sayangnya, Negeri 5 Menara termasuk film yang under expectation.

Beberapa adegan dijelaskan secara instan. Padahal durasinya tidaklah singkat. 120 menit. Entah kenapa, dengan durasi demikian, saya bolak-balik mengecek arloji untuk melihat sudah berapa lama kah filmnya bermain. Sinematografinya pun tidak memberi sesuatu yang spesial. Alur ceritanya terkesan lambat. Meski begitu, Negeri 5 Menara bukanlah film buruk. Film ini masih unggul di beberapa poin. Yovie Widianto yang menggarap  soundtrack dan musik oleh Aghi Narotama terbilang berhasil mengiringi film ini. Affandi Abdul Rachman yang selama ini dikenal film Hearbreak.com dan Aku atau Dia, dan kemarin memukau lewat slasher The Perfect House, mampu mendirect keenam tokoh utama dengan cukup baik. Meskipun belum menghasilkan sebuah penampilan yang luar biasa, mereka tampil cukup mengesankan.

Jika suatu film dibuat menggunakan satu formula yang sama dengan film-film yang menggunakan formula tersebut, maka sesungguhnya hanya ada dua pilihan yang harus dicapai sang pembuat. Melebihi, atau setidaknya menyamai apa yang  sudah ada. Negeri 5 Menara, belum mampu melebihi apa yang sudah ada. Tapi film ini tetap meninggalkan banyak pesan moral yang dapat diambil oleh penontonnya. Belajar dan berusaha adalah kunci kesuksesan. Man Jadda Wajada!

Iklan