Review : Sampai Ujung Dunia (2012)


Cast : Dwi Sasono, Renata Kusmanto, Gading Marten, Chintami Atmanegara, Roy Marten, Sudjiwo Tedjo, Tutie Kirana, Sita Nursanti.

Director : Monty Tiwa.

Release Date : March 15, 2012

Running Time : 97 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Seolah tidak mengenal kata bosan, cerita cinta segitiga tidak henti-hentinya diangkat kelayar lebar. Sebut saja Ayat-Ayat Cinta dan Heart yang fenomenal, Hari Untuk Amanda yang sangat memukau dan tahun lalu ada Kehormatan Dibalik Kerudung. Adalah hal yang sah-sah saja untuk mengangkat formula demikian. Tugas yang diemban hanyalah tinggal membuat film dengan premis sama menjadi sedemikian menarik. Monty Tiwa yang sebelumnya sukses dengan Kalau Cinta Jangan Cengeng, tahun ini menyuguhkan drama romantis berjudul Sampai Ujung Dunia.

Gilang (Gading Marten), Daud (Dwi Sasono), dan Anisa (Renata Kusmanto) telah bersahabt sejak kecil. Anissa yang ditinggal ibunya sejak kecil, tinggal disebuah panti asuhan. Daud berasal dari keluarga miskin. Sebaliknya Gilang berasal dari keluarga serba berkecukupan. Kebersamaan yang terjalin terus menerus membuat Daud-Gilang sadar bahwa mereka mencintai Anissa melebihi seorang adik. Mereka berdua mengatakan cinta disaat yang bersamaan. Anissa bingung menjawabnya, karena mencintai kedua sahabatnya dan tidak ingin persahabatan antara Gilang dan Daud hancur. Anissa pun membuat perjanjian. Siapa yang bisa membawanya ke Belanda untuk mencari ibunya, maka ia yang akan terima sebagai kekasihnya. Atas saran yang diberikan Annisa, Gilang kemudian mencoba mandiri dengan mengikuti Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia, sedangkan Daud diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran. Sampai pada suatu saat mereka tahu bahwa ternyata Annisa menutup rapat perihal penyaktinya dan terancam tidak dapat diselamatkan.

Don’t judge a movie from the cover. Pernyataan ini terasa sangat pas untuk kita ketika hendak menonton sebuah film. Seringkali seseorang tertarik untuk membeli tiket dan menonton sebuah film dikarenakan kekuatan posternya. Memang hal tersebut menjadi satu faktor diantara beberapa faktor lain. Setidaknya kasus demikian pernah saya temui dalam film Cewek Saweran yang memasang Juwita Bahar dengan pose seksi dan judul yang agak seronok namun filmnya jauh dari kesan pertama saat melihat posternya. Filmnya cukup rapi dan menghibur. Hal ini kemudian saya rasakan pada Sampai Ujung Dunia yang menurut saya kurang menjual dari segi poster. Terdapat dua pria berseragam yang mungkin alasannya ingin memberikan gambaran tentang profesi kedua tokoh tersebut. Memutuskan menonton atau tidak sesungguhnya kekuatan poster juga sangat berperan. Beruntungnya kepolosan poster Sampai Ujung Dunia tidak diikuti dengan hasil filmnya secara keseluruhan.

Sampai Ujung Dunia bertutur begitu manis tentunya ditunjang dengan aktor-aktris yang berperan baik, jelas sebuah prestasi bagi sang sutradara dalam mengarahkan para pemainnya. Monty Tiwa juga tidak melulu bertutur tentang penyakit tokoh utamanya, Anissa seperti yang belakangan ramai kita lihat pada film-film drama Indonesia yang mengeksplor penyakit dalam sebuah film. Monty Tiwa masih dapat fokus menguraikan kisah cinta segitiga dengan cukup lugas. Premis miskin dan kaya-pun tidak menjadi basi ditangannya.

Tidak perlu lagi berpanjang lebar, film ini adalah sebuah film drama romantis yang memanjakan mata dengan sinematografi yang indah lengkap dengan kisah cinta segitiga yang manis. Perpaduan antara naskah yang baik dan pengarahan yang tidak begitu ngotot, Sampai Ujung Dunia direkomendasikan untuk ditonton bagi anda pecinta film Indonesia.

Iklan