Review : Dr. Seuss’ The Lorax (2012)


Cast : Danny DeVito, Zac Efron, Taylor Swift, Ed Helms, Rob Riggle, Bety White, Jenny Slate.

Director : Chris Renaud & Kyle Balda

Genre : Animation, Family, Fantasy.

Running Time : 86 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Dr. Seuss mungkin menjadi nama asing bagi penonton film Indonesia, namun di Amerika nama tersebut sangatlah popular sebagai pengarang berbagai kisah anak-anak. Beberapa karyanya yang telah difilmkan adalah How the Grinch Stole Christmas (2000), The Cat in the Hat (2003), dan yang terakhir Horton Hears a Who (2008). Kini ditahun 2012, tepat diulang tahunnya ke 108, karangan penulis yang sama sekali tidak pernah meraih gelar dokter ini kembali diliris dalam bentuk film dengan judul The Lorax.

Ted (Zac Efron) adalah seorang pemuda yang tinggal di Thneed-Ville, yaitu sebuah kota indah yang didesain untuk tempat tinggal para penduduknya. Audrey (Taylor Swift) seorang gadis tetangga yang menarik perhatian Ted. Mengetahui apa yang dicita-citakan Audrey, Ted berjuang untuk memenangkan hati Audrey dan mendapatkan bibit pohon asli untuk ditanam di Thneed-Ville yang hanya dihiasi pohon plastik/palsu. Dalam petualangannya, Ted bertemu dengan Once-ler (Ed Helms), makhluk bertangan hijau yang mengetahui The Lorax (Danny DeVito) makhluk kecil berbulu orange yang berjuang untuk menyelamatkan pohon, khususnya tempat tinggalnya.

Jika kita memperhatikan premis yang disuguhkan oleh The Lorax, film ini cukup banyak menyinggung perihal penebangan hutan yang dilakukan sembarangan, sekaligus mengangkat isu yang terus hangat dibicarakan banyak orang di seluruh belahan dunia yaitu global warming. Hal tersebut tentu akan sangat disadari penonton dewasa meskipun mungkin tidak pada anak-anak yang lebih fokus menikmati karakter-karakter lucu dari para tokoh dan warna-warni dunia The Lorax yang memanjakan mata.

Chis Renaud yang sebelumnya berhasil lewat Despicable Me dan beberapa film animasi lainnya, terbukti kembali mampu menyajikan The Lorax dengan detail dan mendekati sempurna. Sungguh anda akan tertawa renyah melihat tingkah macam-macam karakter yang terlihat begitu nyata. Justru hal detail tersebutlah yang membuat saya mencintai dan merekomendasikan animasi duet penulis naskah ken Daurio dan Cinco Paul ini untuk anda tonton bersama rekan dan mungkin keluarga anda. Jika Despicable Me saja mampu menuai sukses finansial dan kemudian dibuatkan sekuelnya, bukan tidak mungkin The Lorax akan mengikuti meraih kesuksesan yang sama, mengingat film ini memiliki paket lengkap, menghibur dan memberi kesan yang mendalam bagi siapapun yang menontonnya.

Iklan