Review : Mata Tertutup (2012)


Cast : Jajang C. Noer, Eka Nusa Pertiwi, M. Dinu Ismansyah.

Director : Garin Nugroho

Genre : Drama.

Running Time : 102 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Garin Nugroho. Nama sutradara yang telah melahirkan film-film yang sering mengangkat kultur budaya di Indonesia seperti Opera Jawa pada tahun 2006 dan Under The Three di tahun 2008. Tahun lalu ia menjadi produser di film putrinya The Mirror Never Lies dan ternyata juga mengerjakan film Mata Tertutup dan diputar disekolah-sekolah. Sarat akan kontroversi mungkin menjadi alasan Mata Tertutup diputar terbatas tahun lalu. Tahun ini, film dengan minim pemain tersebut dirilis di jejaring bioskop dan sempat pula ditarik kembali penayangannya sampai akhirnya kembali diputar regular.

Mata Tertutup bercerita tentang tiga kehidupan beragama di Indonesia yaitu Rima (Eka Nusa Pertiwi) yang terjebak dalam NII (Negara Islam Indonesia), Jabir (M. Dinu Imansyah) seorang remaja yang menjadi pengebom bunuh diri karena terdorong oleh kondisi keluarga dan kesulitan ekonomi dan Asimah (Jajang C. Noer) seorang ibu yang kehilangan Aini, anak gadis saatu-satunya yang ia miliki menjadi korban penculikan orang-orang dari kelompok Islam Fundamentalisme.

Berbicara mengenai jajaran pemainnya, mungkin yang paling anda kenal adalah Jajang C. Noer, aktris senior yang selalu memberikan penampilan yang baik disetiap filmnya. Memerankan sosok ibu yang gelisah karena kehilangan anak perempuannya, beliau yang dalam film ini juga luwes berdialog padang kembali menunjukkan akting yang memukau. Namun tidak hanya Jajang yang bermain baik dalam film ini. Pemain lain seperti M. Dinu Imansyah dan Eka Nusa Pertiwi yang notabene adalah pemain-pemain baru terbilang berhasil memainkan karakter mereka masing-masing.

Diproduksi dengan biaya yang teramat murah dan hanya menggunakan kamera foto canon 5D, Mata Tertutup berhasil memberikan sebuah suguhan yang tidak miskin kualitas. Hal ini tentu membuktikan anggapan bahwa  film berbujet murah pun terbukti mampu dieksekusi menjadi film yang baik. Soal mahal tidaknya biaya produksi kembali kepada tim kerja yang solid dan berkinerja baik tentunya.

Terlepas dari kontroversi yang begitu dekat dengan film ini, sejujurnya Mata Tertutup bukanlah film yang pantas untuk kita lewatkan begitu saja. Mata Tertutup mengajarkan banyak hal dan memiliki tujuan yang jelas sebagai propaganda antikekerasan dan antifundamentalisme. Semuanya tergambar begitu jelas di film yang diproduksi hanya 9 hari ini.

Iklan