Review : The Raid (2012)


Cast : Iko Uwais, Ray Sahetapy, Yayan Ruhian, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Pierre Gruno, Tegar Satrya.

Director : Gareth Evans

Genre : Action, Crime, Thriller.

Running Time : 101 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Film Indonesia meraih penghargaan festival film luar, mungkin hal yang sering kita dengar. Tapi film Indonesia yang berhasil di berbagai festival, dirilis sampai ke negeri paman sam dan beberapa negara lainnya mungkin baru The Raid yang mencapainya. Diproduksi sejak tahun lalu, rasanya sudah tidak sabar menyaksikan film yang banyak mengundang penasaran bagi banyak pihak. Bukan hanya karena kegemilangan yang diraihnya tapi juga mengingat suksesnya Merantau, film Indonesia pertama dari Gareth Evans yang sempat memukau di tahun 2009.

Di daerah kumuh Jakarta berdiri sebuah gedung tua yang menjadi markas persembunyian para pembunuh kelas dunia yang paling berbahaya. Sebuah tim polisi elit penyerbu berjumlah 20 orang ditugaskan menyergap gembong narkotik terkenal yang menguasai tempat berlantai 30 tesebut. Sialnya ditengah melakukan penyerbuan, aksi mereka diketahui sang gembong narkotik kemudian semua pintu di blokir. Aksi kekerasan, tembak dan saling hantam-pun bertebaran dimana-mana. Beberapa dari mereka mulai berjatuhan dan sisanya berusaha menyelamatkan diri dan membunuh satu persatu penghuni tempat tersebut. Di tempat itu pula, Rama (Iko Uwais) anggota tim polisi dan Andi (Donny Alamsyah) otak bisnis narkoba Tama, bertemu. Andi dan Rama yang berasal dari oknum yang berbeda kemudian saling menolong. Andi mencoba menyelamatkan Rama dari Mad Dog (Yayan Ruhian) tangan kanan Tama yang berkeahlian silat tinggi dan Rama menyelamatkan Andi dari hukuman dan siksaan Mad Dog saat ketahuan menolong dirinya.

Dibuka dengan adegan drama yang menjelaskan tentang kehidupan Rama, kemudian secara beruntun serbuan demi serbuan menghiasi film ini sampai menit terakhir. Gareth Evans bertindak sebagai sutradara, penulis, sekaligus editor sangat paham dalam mengatur ritme film terjaga. Ia juga cukup bijak membagi ruang bagi-bagi karakter-karakter yand ada. Dari segi cast tidak perlu ada kekhawatiran karena Gareth Evans punya Iko Uwais dan Yayan Ruhian yang juga koreografer film ini. Mereka menunjukkan aksi saling hantam yang bukan main hebatnya. Pencapaian yang juga ikut ditorehkan pemain lain seperti Donny Alamsyah sehingga mampu melakoni adegan fighting dengan baik. Sungguh anda akan merasakan ketegangan yang luarbiasa, dan mungkin akan sedikit kelelahan karenanya.

Dalam formulanya, Gareth Evans kembali mengangkat silat lengkap dengan realita kota Jakarta dan segala kebusukan yang ada didalamnya. Yang sangat jelas adalah ia memberikan tiga kali lipat aksi yang lebih brutal dari apa yang pernah ia berikan dalam film Merantau menjadikan The Raid layaknya dikomsumsi penonton usia 17 tahun keatas saja.

Euforia yang saya rasakan sejak kabar baik film ini terus bergulir mengantarkan saya ke sebuah ekspektasi besar yang akhirnya terbukti tidak berlebihan  mengingat The Raid sendiri telah disejajarkan dengan film-film dunia dan memiliki segudang prestasi diantaranya ‘The Cadillac People’s Choice Award’ dalam Toronto International Film Festival. No more saying, you should watch it! Totally Brutal.

Iklan