Review : Hi5teria (2012)


Cast : Tara Basro, Luna Maya, Imelda Therinne, Ichi Nuraini, Maya Otos, Poppy Sovia, Dion Wiyoko, Bella Esperance, Kris Hatta, Sigi Wimala.

Director : Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, Harvan Agustriansyah.

Genre : Horror, Thriller.

Running Time : 97 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Fenomena omnibus tentunya bukan hal baru dalam sejarah perfilman Indonesia. Kita telah banyak melihat film dengan formula demikian, sebut saja Perempuan Punya Cerita, Jakarta Maghrib, dan Takut (Faces of Fear), sedangkan ditahun 2012 ini kita telah disuguhkan dengan 2 film omnibus. Dilema, film omnibus yang diproduseri Wulan Guritno dan dirilis dibulan februari yang mengumpulkan 5 cerita tentang kota Jakarta. Dan yang dirilis pada bulan Maret ini, Mata Tertutup film berbujet murah dengan sutradara Garin Nugroho, sukses melebur 3 cerita yang sangat kontroversial.

Sejujurnya pemilihan judul Histeria saya rasakan kurang tepat. Meskipun cukup berhasil menciptakan ketengangan di beberapa scene masing-masing segmen, secara keseluruhan film ini gagal menyampaikan apa maksud yang terkandung pada judulnya.

#1 Pasar Setan (Adriyanto Dewo)

Score : 1/5

Sari (Tara Basro) seorang pendaki gunung terpisah dengan pacarnya. Sari kemudian terus menjelajah hutan demi menemukan pacarbnya. Didalam pencariannya ia bertemu dengan Zul (Dion Wiyoko). Zul yang mengetahui keberadaan Sari, membantu Sari mencari pacarnya. Namun usaha mereka dihidapkan ketengangan dengan hutan gelap dimana suara-suara keramaian pasar misterius terdengar.

Pasar Setan adalah segmen terburuk dari Histeria. Meskipun saya mengerti maksud ‘pasar’ yang diangkat dalam segmen ini, namun sayangnya eksekusinya terlampau gagal. Pasar Setan terlalu flat dari beberapa aspek untuk disebut sebagai salah satu dari segmen omnibus horror. Disayangkan sekali karena sebenarnya segmen dengan judul yang menarik ini cukup mengundang penasaran banyak orang.

#2 Wayang Koelit (Chairun Nissa)

Score : 2.5/5

Seorang wartawan asing bernama Nicole (Maya Otos) sedang melakukan perjalanan didaerah Jawa Tengan untuk sebuah penulisan. Ia kemudian bertemu dengan seseorang yang misterius. Semenjak saat itu perjalanannya membuat ia terseret didalam dunia mistis wayang kulit. Dunia mistis yang mengancam jiwanya.

Sejujurnya saya senang bahwa budaya Jawa kembali diangkat kedalam sebuah film. Hal ini membuat saya penasaran akan eksekusi film horror yang disandingkan dengan pertunjukan Wayang Kulit akan menjadi seperti apa. Meskipun tidak dapat saya katakan sempurna, tapi segmen menurut saya cukup rapi dari apa yang ada dalam Histeria. Ditambah dengan kontribusi Tya Subiakto sebagai penata musik, berhasil menambah ketegangan demi ketegangan. Maya Otos yang didaulat menjadi tokoh utama dalam segmen ini terbilang berhasil menampilkan karakter wartawan asing yang mengalami teror.

#3 Kotak Musik (Billy Christian)

Score : 1.5/5

Farah (Luna Maya) adalah seorang ilmuwan yang tidak mempercayai hal-hal supranatural. Ia memiliki penjelasan ilmiah tentang fenomena-fenomena aneh yang dialami banyak orang. Tapi pada suatu kejadian, Farah mulai dihantui hantuk anak kecil yang mengajaknya bermain. Semua itu karena kotak musik misterius yang diambil Farah pada sebuah rumah tua. Situasi tersebut memaksa Farah percaya ajan adanya hal0hal berbau mistis yang sering ia tidak percayai.

Luna Maya tampil sebagai kekuatan dalam segmen ini. Sayangnya saya menangkap beberapa scene yang terlalu familiar (pernah saya tonton dalam film luar). Beberapa karakter dalam segmen film ini pun terasa kurang memberi kontribusi yang berarti. Artinya ada atau tidaknya karaktert tersebut tidak akan menjadi sebuah masalah. Kotak Musik bertutur agak berbelit sehingga keoptimisan yang tercipta diawal segmen pupus begitu saja.

#4 Palasik (Nicholas Yudifar)

Score : 2/5

Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak sedang melakukan liburan di sebuah villa. Situasi villa yang menyimpan banyak cerita mulai menghantui ibu keluarga tersebut yang sedang hamil. Hal tersebut membuat sang ibu penasaran dan mencari tahu tentang cerita mistis apa yang membuat ia dihantui oleh sosok hantu berkepala buntung.

Sama seperti Wayang Koelit, Palasik adalah salah satu segmen yang membuat saya pribadi penasaran. Selain telah menjadi urban legend, Palasik cerita rakyat dari Padang pernah saya dengar dalam beberapa versi. Palasik sebenarnya bisa jadi segmen yang paling baik dalam Histeria. Imelda Therinne memberi kualitas akting yang memukau seperti apa yang ia tunjukkan dalam film slasher, Rumah Dara. Lokasi syuting yang juga pernah digunakan The Mo Brothers untuk menggarap Rumah Dara tetap mampu memberi kesan “menyeramkan” bagi siapapun yang membayangkan berada ditengah-tengah rumah tersebut. Maka efek animasi yang digunakan untuk menciptakan hantu kepala buntung adalah poin minus dari segmen ini dimana efek tersebut mengingatkan saya pada film horror televisi yang pernah saya saksikan di salah satu stasiun TV swasta.

#5 Loket (Harvan Agustriansyah)

Score : 3/5

Pada suatu malam kejadian misterius menimpa seorang gadis yang bekerja sebagai penjaga loket di parkiran basement sebuah mall. Ditempat tersebut ia dihantui sosok hantu perempuan yang menuntun balas. Sambil berusaha menyelamatkan diri, sang penjaga loket kemudian melihat kejadian apa yang sesungguhnya terjadi di parkiran basement mall tersebut.

Selain Ichi Nuraini yang tampil apik, Loket punya Bella Esperance yang begitu menyeramkan minus dialog. Setelah menyaksikan semua segmen maka pilihan terbaik jatuh pada segmen terakhir ini. Tidak berlebihan namun cukup konsisten menciptakan ketegangan dari awal sampai akhir, Histeria beruntung mempunyai segmen ini. Segmen yang tidak terlalu muluk-muluk namun akhirnya berhasil menutup Histeria yang mengecewakan dibeberapa segmen.

Iklan