Review : Sanubari Jakarta (2012)


Cast : Pevita Pearce, Reuben Elishama, Miea Kusuma, Permata Sari Harahap, Dindakanya Dewi, Herfiza Novianti, Albert Halim, Rangga Djoned, Arswendi Naustion, Gia Partwawinata, dll.

Director : Tika Pramesti, Dindakanya Dewi, Lola Amaria, Alfrits John Robert, Aline Jusria, Adriyanto Dewo, Billy Christian, Kirana Larasati, Fira Sofiana & Sim F.

Genre : Drama.

Running Time : 100 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Omnibus memang tengah menjadi tren dalam perfilm-an Indonesia saat ini. Dalam hitungan 4 bulan di tahun 2012 saja sudah ada 3 film Indonesia yang mengusung formula tersebut diantaranya Dilema omnibus dengan 5 kisah tentang kota Jakarta dan segala macam karakter, cinta dan ambisi yang produseri aktris Wulan Guritno, Mata Tetutup, film kontroversial yang sebelumnya sempat dirilis terbatas ditahun 2011, dan baru kemarin Histeria omnibus horror-thriller yang diproduseri sutradara kawakan Upi dirilis dibioskop. Kini yang terbaru adalah Sanubari Jakarta. Bercerita tentang berbagai bentuk cinta yang tidak lazim di kota Jakarta. Film dengan tema LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) memang bukan pertama kali diangkat ke layar lebar. Tidak jarang kita menemui film yang kisahnya mengangkat tokoh dengan tema sejenis. Namun dalam Sanubari Jakarta semuanya terurai lebih jelas. Bagaimana tidak, dalam film ini terdapat 10 kisah dengan 10 sutradara yang berbeda-beda. Tentu langkah Lola Amaria sebagai produser film ini tergolong berani.

Lola Amaria yang pada tahun 2010 sukses dengan mengangkat trafficking dalam Minggu Pagi Di Victoria Park seolah mendulang sukses yang sama lewat omnibus ini. Kesepuluh sutradara yang bekerja dalam omnibus ini adalah Tika Pramesti, Dindakanya Dewi, Alfrits John Robert, Aline Jusria, Adriyanto Dewo, Billy Christian, Kirana Larasati, Fira Sofiana Sim F dan juga Lola Amaria. Seperti yang kita ketahui beberapa diantaranya adalah aktris film dan juga sutradara pendatang baru seperti Billy Christian dan Adriyanto Dewo yang juga bertindak sebagai sutradara dalam omnibus Histeria.

Berikut adalah review singkat cinemaylo tentang 10 segmen omnibus Sanubari Jakarta :

1/2

Cast : Pevita Pearce, Irfan Guchi, Hernaz Patria

Director : Tika Pramesti

Score : 3.5/5

1/2 adalah segmen pembuka bercerita tentang tokoh Abi yang terobsesi dengan teman prianya, Biyan. Dalam obsesinya Abi menciptakan karakter Anna yang ia bayangkan dekat dengan Biyan. Segmen 1/2  adalah salah satu dari segmen terbaik yang ada dalam omnibus ini. Tika Pramesti memiliki gambar yang indah dan secara keseluruhan castnya pun tidak mengecewakan. 1/2 berhasil membuka omnibus ini dengan amat baik.

Malam Ini Aku Cantik

Cast : Dimas, Bemby Putuanda, Ajeng Sardi.

Director : Dindakanya Dewi

Score : 3/5

Dindakanya Dewi yang juga berperan dalam segmen lain menjadi sutradara segmen kedua. Segmen ini bercerita tentang kehidupan Agus, seorang waria dimana pekerjaannya tersebut ia lakukan demi menghidupi anak-istrinya dikampung.

Sebagai debutnya, Dindakanya Dewi sangat berhasil menyuguhkan segmen ini kepada penonton. Pemilihan cast juga terbilang pas. Malam ini aku cantik mampu mengungkap sisi biseksual dengan sangat rapi.

Lumba-Lumba

Cast : Dindakanya Dewi, Ruth Pakpahan, Agastya Kanduo

Director : Lola Amaria

Score : 3/5

Lumba-lumba adalah kisah tentang guru TK bernama Adinda. Ada alasan tersembunyi mengapa Adinda . Adinda lalu bertemu dengan seorang wanita bernama Anggya, yang merupakan orang tua dari muridnya. Mereka kemudian dekat dan saling menyukai.

Ini segmen yang paling saya tunggu-tunggu. Segmen yang disutradarai langsung oleh sang produser, Lola Amaria. Sama halnya dengan dua segmen sebelumnya, Lumba-lumba adalah segmen yang juga tampil baik sesuai porsinya. Dindakanya Dewi pun berhasil menghidupkan karakter lesbian yang didaulatkan kepadanya.

Terhubung

Cast : Permatasari Harahap, Illfie, Raditya Alvand

Director : Alfrits John Robert

Score : 1.5/5

Terhubung berkisah tentang dua perempuan bernama Kartika dan Agatha yang secara tidak sengaja bertemu ditoko bra. Kartika adalah perempuan yang hidupnya selalu diatur, sedangkan Agatha baru saja putus dari pacarnya. Berbeda dengan tiga segmen sebelumnya, Terhubung menurut saya kurang memiliki kesan. Penyajiannya terlampau biasa mungkin karena keaslian naskah yang juga biasa. Masih mengangkat kisah pasangan lesbian, segmen yang disutradarai Alfrits John Robert ini menjadi segmen pertama yang tampil biasa-biasa saja.

Kentang

Cast : Gia Partawinata, Hafez Ali, Ence Bagus

Director : Aline Jusria

Score : 3.5/5

Sempat drop di segmen keempat, Kentang yang disutradarai Aline Jusria, editor dan penyunting yang sukses meraih piala citra untuk Minggu Pagi Di Victoria Park dan tahun lalu Catatan Harian Si Boy sangat berhasil menyajikan kisah pasangan gay, Drajat dan Acel dengan begitu menghibur. Dialog-dialognya yang ringan dan mengundang tawa dengan mudah diingat penontonnya. Tidak salah kalau segmen ini menjadi favorit banyak penonton.

Menunggu Warna

Cast : Rangga Djoned, Albert Halim

Director : Adriyanto Dewo

Score : 2.5/5

Adalah segmen keenam yang tampil hitam-putih sesuai judulnya, Menunggu Warna. Segmen yang dibintangi Rangga Djoned dan Albert Halim ini cukup mencuri perhatian dimana hanya terdapat dua bintang yang bekerja sama baiknya. Adriyanto Dewo tidak sedang meniru The Artist dengan tampil hitam-putih melainkan ia telah menyuguhkan segmen sederhana yang mampu tampil mengesankan.

Pembalut

Cast : Gesata Stella, Reva Marchellin

Director : Billy Christian

Score : 3.5/5 

Judulnya sudah cukup membuat saya penasaran. Pembalut adalah kisah pasangan lesbian yang berdebat dalam sebuah kamar hotel, Bianca dan Theresia. Mereka memperdebatkan masalah-masalah kecil hingga masalah Theresia yang membahas rencana menikah dengan laki-laki persis disaat Bianca mengalami datang bulan. Setelah menyaksikannya, saya cukup puas dengan hasilnya dan menjadikan segmen ini menjadi salah satu segmen favorit saya. Apalagi dengan tiga bintang yang tampil sesuai pada prosi masing-masing, Pembalut adalah segmen yang simple tapi begitu memikat.

Topeng Srikandi

Cast : Herfiza Novianti, Deddy Corbuzier, Kirana Larasati

Director : Kirana Larasati

Score :1.5/5 

Setelah puas dengan beberapa segmen yang sebelumnya telah saya saksikan, saya kembali kecewa dengan hasil akhir dari segmen karya Kirana Larasati ini. Topeng Srikandi bertutur tentang Srikandi yang merubah penampilannya menjadi laki-laki untuk membalas perbuatan boss dan para laki-laki dikantornya yang banyak merendahkan perempuan. Herfiza tidak tampil buruk namun saya merasa segmen ini masih perlu tambahan durasi untuk tampil lebih detail dan mengesankan.

Untuk A

Cast : Arswendy Nasution, Tata, Trianti Indah

Director : Fira Sofiana

Score : 2/5 

Untuk A adalah segmen kesembilan yang bercerita mengenai seorang laki-laki bernama Ari yang mengetik surat untuk A, surat yang menjelaskan tentang laki-laki yang dilahirkan dalam wujud perempuan hingga memutuskan untuk operasi kelamin.

Tidak banyak yang bisa saya komentari tentang segmen yang disutradari Fira Sofiana ini. Arswendi Nasution memberikan performa yang baik sehingga segmen yang memang sederhana ini mampu melengkapi kisah transgender yang diangkat dalam kumpulan kisah omnibus Sanubari Jakarta.

Kotak Coklat

Cast : Reuben Elishama Hadju, Miea Kusuma

Director : Sim F

Score : 3/5

Kotak Cokelat adalah segmen dengan 2 tokoh utama yang diperankan Reuben Elishama Hadju dan Miea Kusuma. Dikisahkan Reuben dan Mia yang berjenis kelamin sama yaitu laki-laki saling mengenal sejak kecil. Pada masa itu Mia banyak dilecehkan teman-temannya karena dianggap sebagai anak laki-laki yang keperempuan. Reuben adalah salah satu dari anak yang dulunya melecehkan Mia. Pada akhirnya Reuben bertemu dengan Mia yang telah menjadi perempaun, dan kemudian berhubungan sebagai sepasang kekasih. Tampil sebagai segmen penutup, Sim F mengurai kisah tentang kotak coklat dengan cukup manis. Tidak ada kata lain untuk akting Reuben dan Miea selain mereka berchemsitry dan melakukan kolaborasi yang pas.

Iklan