Review : Silent House (2011)


Cast : Elizabeth Olsen, Adam Trese, Eric Sheffer Stevens, Julia Taylor Ross, Haley Murphy.

Director : Chris Kentis & Laura Lau

Genre : Horror, Thriller.

Running time : 85 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Sesaat setelah membeli tiket film ini, sejujurnya saya tidak menaruh ekspektasi besar. Satu-satunya yang saya rasakan adalah penasaran yang cukup tinggi karena film ini adalah remake dari La Casa Muda, film asal Uruguay yang sebelumnya telah meraih sukses dimana-mana. Elizabeth Olsen yang melejit lewat film yang banyak memberinya nominasi penghargaan film, Martha Marcy May Marlene di plot sebagai pemeran utama. Silent House sendiri perdana diputar di Sundance Film Festival 2011 dan baru ditayangkan dibioskop ditahun 2012.

Sarah (Elizabeth Olsen) bersama Ayahnya (Adam Trese) dan juga pamannya, Peter (Eric Sheffer Stevens) kembali ke sebuah rumah yang sudah lama tidak mereka huni untuk kemudian diperbaiki dan dijual. Disana ia bertemu Sophia (Julia Taylor Ross) seorang gadis yang mengaku teman masa kecil Sarah. Anehnya Sarah sama sekali tidak mengenali Sophia yang banyak bercerita tentang dirinya. Sarah juga seakan-akan kehilangan memori masa kecilnya ketika ia tinggal dirumah itu. 

Selepas pertemuannya dengan Sophia, ia kembali kedalam rumah dan mulai membantu Ayahnya untuk segera mengosongkan rumah. Namun rumah yang menyimpan banyak cerita mulai menunjukkan keanehan-keanehan. Sarah mendapat terror ditengah keadaan yang semakin membuatnya sulit untuk keluar dari rumah misterius yang menginginkan dirinya.

Tekhnik handheld camera rupanya masih menjadi salah satu formula yang paling sering digunakan dalam pembuatan film thriller seperti ini. Entah karena dipercayanya formula tersebut untuk menghadirkan adegan demi adegan lebih nyata seperti yang dilakukan Paranormal Activity, yang jelas formula tersebut harus diakui mampu membuat kita merasakan setiap adegan dengan lebih nyata.

Menit-menit awal film siapa Sarah, hubungan dengan ayahnya dan apa yang sebelumnya terjadi didalam rumah itu. Kemunculan Sophia saya rasa cukup tepat. seolah-olah dihadirkan untuk sedikit menyinggung masa lalu Sarah. Film kemudian bergerak secara lugas memberikan ketegangan demi ketegangan. Tokoh utama Sarah kemudian mengajak penonton untuk mengelilingi setiap sudut rumah yang gelap. Seperti pada film-film sejenis, suara-suara misterius seakan menjadi pembuka dari terror sesungguhnya.

Harus saya akui dari awal sampai 15 menit terakhir Silent House bergulir begitu rapi. Penonton dipaksa untuk terus menebak siapa dan apa yang sebenarnya terjadi. Elizabeth Olsen patut diacungi jempol karena memerankan karakter Sarah dengan sangat baik. Siapapun yang melihat apa yang dialaminya didalam rumah tersebut akan mudah bersimpati. Emosi yang ia bangun mampu membuat penonton merasakan ketakutan yang sama dengan yang dialaminya.

Sayangnya 15 menit terakhir yang seharusnya menjadi adegan pamungkas malah berakhir tidak klimaks. Sangat disayangkan karena dari awal sampai menuju ending filmnya bergulir dengan rapi dan mampu mencekam penontonnya. Chris Kentis dan Laura Lau mengakhiri film dengan twist yang kurang menarik bahkan cenderung biasa. Terlepas dari kekurangan yang justru terdapat diakhir film ini, Silent House adalah sebuah horror-hriller yang menegangkan. Pecinta film sejenis mungkin akan menyukainya, namun jelas film ini tidak memberikan sesuatu yang baru.

Iklan