Review : Paranormal Experience 3D (2011)


Cast : Amaia Salamanca, Alba Ribas, Maxi Iglesias, Fernández, Oscar Sinela, Úrsula Corberó, Manuel de Blas, Minguel Agel Jenner.

Director : Sergi Vizcaino.

Genre : Horror, Thriller.

Running time : 86 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing

2 : Ordinary / 3 : Good

4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Sudah berapa banyak film horror yang menggunakan ide dasar tentang suatu pikiran yang melampaui batas normal atau yang kita kenal dengan istilah paranormal? Rasanya sudah banyak. Salah satunya adalah seri Paranormal Activity yang membuat banyak penonton ketakutan. Cerita tentang paranormal sendiri kembali diangkat sineas Spanyol dengan judul Paranormal Experience dengan menggunakan tekhnologi 3D dimana film ini adalah film horror pertama yang menggunakan teknologi tersebut. Film ini disutradarai Sergi Vizcaino dan naskahnya ditulis oleh penulis naskah pendatang baru, Daniel Padro.

Paranormal Experience adalah kisah tentang lima mahasiswa Amaia Salamanca (Angela), Maxi Iglesias (Jose), Luco Fernández (Carlos), Oscar Sinela (Toni), Úrsula Corberó (Belen) berusaha membuktikan ke dosen mereka bahwa konsep makhluk halus adalah takhayul. Angela yang sejak awal tidak percaya dengan paranormal kemudian mengajak adiknya, Diana (Alba Ribas) untuk ikut dalam penelitian mereka. Dengan van milik adiknya, Angela dan kawan-kawan menelusuri kota kecil yang terlantar bernama Susurro. Disana beberapa kejadian aneh mulai datang menghampiri mereka. Mereka berjuang untuk selamat dari sosok misterius yang mengancam nyawa meraka.

Menggunakan ide twist yang mirip dengan twist film lain sebenarnya sah-saja. Tugas sineas adalah menampilkannya secara lebih menarik atau bahkan membuat penonton tidak mampu menebak twistnya meskipun dengan ide dasar yang sama dengan film sejenis. Tapi apa yang terjadi dengan Paranormal Experience? Oleh sang penulis naskah,  ide twist yang terlalu familiar tersebut dibiarkan begitu saja. Secara keseluruhan naskahnya buruk. Penonton seolah diberikan banyak kesempatan untuk mudah menebak adegan pamungkasnya. Bagaimana bisa, salah satu karakter dalam film ini selalu ada dalam setiap adegan pembunuhan terjadi? Ah, sepertinya ini sudah termasuk spoiler. Intinya, tidak ada usaha yang terlihat dari penulis naskah untuk mungkin membuatnya sedikit lebih menarik atau berbeda lewat gaya penceritaannya. Saya pribadi sangat mudah menebak keseluruhan cerita yang ada dalam film ini.

Alih-alih menyuguhkan adegan menegangkan, film ini justru terlalu sibuk melakukan flash-back ke masa lalu Diana dan Angela. Sosok dokter yang diharapkan mampu menghadirkan rasa takut, justru tidak maksimal kemunculannya. Tidak ada satupun alasan saya untuk merasakan setidaknya sedikit ketakutan ketika melihat dokter yang rasanya lebih mirip bajak laut itu. Alhasil film ini dapat saya katakan hanya mengandalkan tata musik – yang sayangnya juga tidak berpengaruh banyak – untuk memberikan ketegangan kepada penonton.

Miskinnya kualitas naskah semakin diperburuk dengan penampilan para cast yang tampil sama buruknya. Luco Fernández berniat tampil layaknya badboy, gagal dalam setiap adegannya. Alba Ribas yang frustasi tampil tidak natural begitupun Úrsula Corberó yang terlalu dibuat-buat. Tidak  ada karakter yang benar-benar tampil memukau atau berkesan. So, kalaupun anda bersikukuh untuk tetap menonton film ini, lebih baik anda memilih menyaksikannya dalam format 2D – biaya tiket tentu tidak lebih mahal dari 3D – atau menunggu dvdnya yang nampaknya akan beredar dalam waktu dekat.

Iklan