Review : Street Dance 2 (2012)


Cast : Falk Hentschel, Sofia Buotella, Tom Conti, George Sampson.

Director : Max Giwa & Dania Paquini.

Genre : Drama, Music, Romance.

Running time : 85 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Bukan hanya India saja yang gemar menampilkan tarian dalam film. Terbukti film yang menampilkan kelihaian para pemainnya dalam menari semakin sering kita jumpai bahkan masih menjadi salah satu dari film hiburan yang punya penggemar tersendiri. Street Dance yang sempat berhasil mengungguli Robin Hood dan Prince of Persia pada minggu pertama perilisannya nyatanya pada akhirnya mendapat hasil yang tidak terlalu menggembirakan. Hal tersebut tidak membuat duet sutradara Max Giwa dan Dania Paquini kehilangan kepercayaan diri untuk membuat sekuelnya.

Dikisahkan Ash (Falk Hentschel)  pemuda Amerika yang berprofesi sebagai penjual popcorn, dipermalukan setelah kalah dalam tantangan melawan grup unggulan bernama The Invicibles. Ash putus asa dan sempat ingin berhenti menari namun Eddie (George Simpson) yang memotivasinya untuk membentuk grup street dance untuk membalas The Invicibles. Satu persatu anggota berhasil dikumpulkan sampai Ash bertemu dengan penari salsa yang sensual, Eva (Sofia Boutella). Namun konflik terjadi disaat mereka tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti ajang kompetisi freestyle dance tingkat Eropa.

Konsepnya kurang lebih sama. Jika dalam Street Dance, kita disuguhi aksi tari jalanan dan balet, maka dalam film ini salsa menjadi kolabolator dari tari jalanan. Namun adakah sesuatu yang baru dalam film ini?  Sayangnya tidak. Naskahnya buruk terbukti dengan banyaknya ketidaklogisan cerita yang bergulir dalam durasi 85 menit. Seperti yang kita jumpai sebelumnya, film tari lebih fokus dalam mengekplor kelihaian para aktor-aktris pendatang baru untuk menari, dan seringkali mengabaikan kualitas cerita. Inilah salah satu masalah besar yang selalu dikhawatirkan terjadi pada film dengan genre sejenis. Street Dance 2 tidak mampu keluar dari anggapan tersebut. Plot yang begitu-begitu saja tidak diimbangi dengan eksekusi yang menarik.

Falk Hentschel dan Sofia Boutella pun terasa kurang disini. Kegagalan mereka berdua dalam membangun chemistry membuat penonton rasakan akan sulit untuk bersimpati. Mereka hanya terlihat menyelesaikan dialog demi dialog tanpa adanya ketertarikan emosi yang kuat satu sama lain. Hal ini tak pelak juga terjadi dengan para cast yang lain. Untungnya skill Sofia Boutella dalam balet cukup mumpuni dan masih mampu memukau penonton.

Sebenarnya sulit untuk membandingkan antara Street Dance dan Street Dance 2. Namun karena Street Dance pada kenyatannya lebih dulu dirilis, maka film ini terlihat sangat biasa dan tidak lebih baik dari pendahulunya. Sayang sekali mengingat film ini terlihat lumayan menjanjikan dan menunjukkan keyakinan pada posternya, Bigger-Better-Bolder-Back. Sebuah penanaman ekspektasi pada penontonnya yang rasanya cukup berhasil, namun dalam kenyataannya jauh dari ekspektasi tersebut. Anda hanya akan melihat adegan tari yang cukup mampu memukau – sebuah keharusan – tanpa mendapat suatu kesan lebih. Pilihlah format 2D jika anda hendak menyaksikannya, karena 3D mungkin membuat akan menambah kekecewaan anda.

Iklan