Review : Perahu Kertas (2012)


Cast : Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Reza Rahadian, Elyzia Mulachela, Sylvia Fully, Fauzan Smith, Kimberly Rider, Tio Pakusadewo, Ira Wibowo, August Melasz.

Director : Hanung Bramantyo.

Genre : Drama.

Running time : 111 minutes.

Rate Description   :

O: Rubbish / 1: Dissapointing /  2: Ordinary / 3: Good /  4: Very Good / 5: Outstanding!

Based on Novel. Tahun ini satu lagi karya yang memperpanjang daftar film rilis berdasarkan novel, Perahu Kertas yang proyeknya sudah terdengar sejak beberapa wajtu belakangan. Tidak mengherankan jika film ini menjadi salah satu film yang ditunggu banyak orang. Ada nama Hanung Bramantyo yang seolah menjadi jaminan kualitas sebuah film khususnya drama. Setelah cukup lama membuat penasaran para pecinta film lokal, khususnya penggemar novel-novel karya Dewi Lestari, akhirnya Perahu Kertas dirilis.

Kugy (Maudy Ayunda) adalah seorang gadis yang bercita-cita menjadi penulis dongeng. Kugy memiliki kebiasaan membuat perahu kertas berisi tulisan yang dilarungkan kesungai. Suatu hari ia bertemu dengan Keenan (Adipati Dolken), pelukis muda sahabat dari Noni (Sylvia Fully R) dan Eko (Fauzan Smith), yang juga sahabatnya. Hubungan yang awalnya hanya saling kagum berubah menjadi cinta. Namun seperti halnya cinta dimanapun akan menuai ujian. Ujian ketika Wanda (Kimberly Rider), Remi (Reza Rahadian), dan Luhde (Elyzia Mulachela) hadir dalam kehidupan Kugy dan Keenan.

Seperti yang dikatakan Hanung dalam konferensi pers Perahu Kertas, novel merupakan hal yang sulit jika harus diangkat menjadi sebuah film. Rasanya usaha Hanung dalam mewujudkan film ini harus dihargai. Sayang, entah karena sebelumnya terlanjur mencintai kolaborasi Maudy dan Adipati dalam film Malaikat Tanpa Sayap, saya merasakan sesuatu yang kurang dari penampilan mereka berdua. Chemistry mereka berdua jelas tidak sebaik sebelumnya.Berbanding terbalik dengan Maudy dan Adipati, Sylvia Fully dan Fauzan Smith yang memerankan tokoh Noni dan Eko malah berkali-kali berhasil mencuri perhatian. Sementara itu, Reza Rahadian yang biasanya mendapat peran lebih berat dari film ini terlihat sangat mudah melakukan tugasnya dengan baik.

Terlepas dari penampilan jajaran pemain yang kurang memuaskan dan masih terdapatnya kekurangan lain difilm ini, Perahu Kertas masih menjadi film drama yang layak tonton. Sinematografi yang disuguhkan begitu indah. Alunan suara merdu Maudy Ayunda yang menyanyikan soundtrack film diputar berkali-kali mampu menghipnotis telinga penonton. Hanung Bramantyo masih cukup terampil menghadirkan konflik demi konflik dengan cukup rapi meskipun beberapa kali sempat nyaris kehilangan arah.

Perahu Kertas jelas bukanlah film yang mampu menunjukkan seberapa besar kualitas seorang Hanung Bramantyo. Saya sendiri tidak mampu mengukur film ini dengan novelnya karena belum membacanya. Namun jika menilai sebagai film utuh,  Perahu Kertas hanya sebatas film drama yang layak tonton meskipun nyaris mengecewakan. Mengingat film ini masih memiliki bagian kedua yang sebentar lagi akan dirilis, rasanya diperlukan sesuatu yang lebih menggugah dari apa yang sudah disuguhkan dalam bagian pertama ini agar Perahu Kertas dapat menjadi salah satu dari film drama yang akan selalu diingat pecinta film Indonesia. Kita tunggu saja!

Iklan