Review : Rayya: Cahaya Di Atas Cahaya (2012)


Cast : Titi Sjuman, Tio Pakusadewo, Christine Hakim, Lila Azizah, Verdi Solaiman, Alex Abbad, Arie Dagienkz, Masayu Anastasia, Bobby Rahman, Fanny Fabriana

Director : Viva Westi.

Genre : Drama

Running time : 118 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Status memang terkadang adalah hal yang palsu. Dibalik keagungan tingginya status tersebut, ada banyak hal lain yang bertolak belakang didalamnya. Orang-orang hanya akan melihat dari luar tanpa pernah tau persis bagaimana dan seberapa besar kebahagiaannya. Setidaknya itulah gambaran kecil tentang film ini. Film terbaru karya Viva Westi yang terkenal cukup bermain dibeberapa genre salah satunya horror – Pocong Keliling dan juga sempat merilis film tentang isu etnis Tianghoa, May.

Rayya (Titi Sjuman) adalah seorang bintang besar. Glamournya hidup Rayya mau tidak mau menimbulkan anggapan bahwa dirinya adalah sosok yang sempurna. Namun siapa sangka. Rayya yang diagung-agungkan ternyata juga telah merasa dicampakkan. Kisah cintanya yang berakhir ditengah jalan membuatnya terpuruk. Dalam sebuah proyek pembuatan buku autobiografi dirinya, ia bertemu dengan Arya (Tio Pakusadewo) seorang fotografer yang juga memiliki masalah yang sama dengan dirinya. Perjalanan panjang yang mereka lalui menjadi titik terang bagi masalah mereka berdua.

Film ini sebenarnya bisa saja beruntung memiliki naskah dengan dialog-dialog indah nan cerdas hasil kolaborasi Emha Ainun Najib dan Viva Westi. Namun tingkat puitisnya kalimat-kalimat yang mendominasi film ini justru terasa terlalu tinggi, berlebihan dan kurang meyakinkan. Tidak jarang saya merasa sedang menonton sebuah teater daripada film. Seandainya naskahnya lebih ditekan untuk menggunakan dialog sehari-hari mungkin hasilnya akan lebih baik.

Dialog-dialog puitis yang dibebankan kepada Titi Sjuman juga sedikit banyak berdampak. Akting Titi sendiri tidak jelek namun terasa begitu teatrikal. Terkadang emosinya terlalu meluap. Banyak dialog-dialog panjang yang harus dilakoninya. Memang bukan hal yang mudah melakukannya namun sayangnya menjadi terlihat tidak pas. Sementara itu, Tio Pakusadewo justru tampil meyakinkan memerankan karakternya. Ketenangannya dalam berakting mampu menetralisir luapan-luapan Titi Sjuman. Satu lagi yang mencuri perhatian adalah kemunculan Christine Hakim yang memberikan warna lain untuk film yang unsur dramanya sangat kuat ini.

Tidak ada satu orang pun yang sempurna. Sama halnya dengan tidak ada film yang sempurna. Meskipun tidak sesempurna seperti yang saya harapkan, Rayya : Cahaya Di Atas Cahaya cukup memberikan banyak pesan. Pencapaian yang diraih tidak selamanya tepat untuk dijadikan tolak ukur kebahagiaan seseorang. Tolak ukur tersebut bisa datang dari hal lain bahkan untuk hal-hal yang tidak pernah terbayang sekalipun.

Iklan