Review : Rumah Kentang (2012)


Cast : Shandy Aulia, Tasya Kamila, Gilang Dirgahari, Cintami Atmanegara, Ki Kusumo, Iszur Muchtar.

Director : Jose Poernomo

Genre : Horror.

Running time : 102 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Setuju atau tidak Jelangkung, film rilisan tahun 2001 merupakan salah satu film horror yang paling sering disebut penikmat film ketika ditanya tentang film horror Indonesia mana yang mampu membuat penonton histeris. Meskipun bukan film pertama yang bercerita tentang Jelangkung, film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani dan Jose Poernomo itu terlanjur membekas sebagai salah satu film horror terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Namun semakin ramainya film dengan genre tersebut dirilis dengan balutan komedi dan seks membuat film horror Indonesia kehilangan cirinya.

Jose Poernomo yang tercatat cukup dominan merilis film horror sempat merilis Angkerbatu (2007) namun juga akhirnya terjebak dalam genre komedi horror dengan bumbu seks, Pulau Hantu yang dibuat sampai 3 bagian. Jika seri Pulau Hantu lebih tepat jika dikatakan hanya mengikuti tren menjamurnya film dengan komposisi sejenis, maka tahun ini dengan dalih mengembalikan khas dari film horror Indonesia, Jose kembali bermain dengan urban legend yakni cerita tentang Rumah Kentang.

Secara tiba-tiba Farah (Shandy Aulia) menerima telepon dari tantenya kalau ibunya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Adiknya, Rika (Tasya Kamila) berhasil selamat namun mengalami depresi. Farah terpaksa meninggalkan kuliahnya di Melbourne dan tinggal bersama adiknya disatu-satunya harta peninggalan ibunya, rumah tua yang disebut-sebut adalah rumah kentang yang mengandung banyak misteri. Awalnya Farah tidak mau percaya namun Rika yang memiliki indra keenam mulai diganggu oleh penghuni yang mengancam nyawa mereka.

Sangat disayangkan mengetahui usaha Jose Poernomo kali ini terasa gagal. Memang film ini sama sekali tidak mengandung unsur seks yang membedakannya dengan film-film rilisan sekarang namun Rumah Kentang memiliki banyak catatan negatif. Banyak scene yang membuat saya mengernyitkan dahi karena ketidakmasuk akalannya. Visualisasi indah dari Rumah Kentang yang misterius tidak mampu menyelamatkan film secara utuh dari payahnya naskah yang dimiliki film ini. Tidak perlu disebutkan satu persatu namun miskinnya kualitas naskah akan dengan mudah disadari penonton.

Shandy Aulia yang kembali sejak kemunculan terakhirnya di Apa Artinya Cinta? (2005) tidak menunjukkan peningkatan kualitas akting. Menyaksikan perannya dalam Eiffel I’m In Love masih akan sangat menyenangkan ketimbang difilm ini. Sementara itu, Tasya Kamila yang memulai debutnya lewat film ini justru mampu tampil baik. Sayang, porsinya dalam film ini terlampau sedikit hingga kontribusinya hampir tidak terlihat sama sekali.

Dengan mengangkat urban legend yang fenomenal namun memiliki naskah yang lemah, apakah Rumah Kentang masih layak untuk direkomendasikan? Well, film horror yang berhasil menurut saya adalah film yang mampu membuat saya merasakan ketegangan dan ketakutan selama menontonnya. Mungkin yang menjadi catatan adalah perlunya anda menekan ekspektasi sebelum menonton film ini. Ekspektasi yang teramat tinggi akan membuat anda kecewa karena nyaris tidak ada sesuatu yang baru yang ditawarkan Jose Poernomo kali ini kecuali hanya sebuah film horror yang berusaha tampil baik namun tidak berhasil.

Iklan