Review : Frankenweenie (2012)


Cast : Charlie Tahan, Frank Welker, Winona Ryder, Catherine O’Hara, Martin Short, Martin Landau, Robert Capron.

Director : Tim Burton

Genre : Animation, Comedy, Horror.

Running time : 87 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Jika anda memang salah satu dari penggemar Tim Burton, mungkin film ini sudah tidak asing ditelinga anda. Hampir 30 tahun lamanya setelah membuat film pendek berdurasi 30 menit yang terinspirasi dari Frankenstein karya James Whale, Tim Burton kembali menggarap proyek Frankenweenie sebagai film layar lebar dengan format 3D hitam putih. Tim Burton sendiri patut berbangga karena Frankenweenie menjadi film animasi hitam putih pertama dengan konsep stop motion yang diputar di IMAX 3D.

Victor Frankenstein merasa sangat kehilangan saat sahabat satu-satunya tersebut mati secara tiba-tiba. Victor kemudian mempelajari ilmu sains yang didapatnya disekolah untuk mencoba menghidupkan anjingnya, Sparky kembali. Usahanya berhasil. Sparky hidup kembali meskipun dengan kondisi yang sudah berbeda. Saat Sparky keluar, warga kota tahu bahwa kehidupan baru dapat diciptakan. Malapetaka terjadi dikota. Sekali lagi, Victor harus kembali berusaha menyelamatkan Sparky sebelum ia kehilangan sahabatnya untuk selama-lamanya.

Kisah binatang peliharaan bersama pemiliknya, khususnya anjing memang sudah sering sekali diangkat. Beberapa diantaranya seperti Marley and Me (2008) dan Hachiko: A Dog Story (2009) berhasil menyentuh hati. Lalu bagaimana dengan Frankenweenie? Naskahnya ditulis oleh John August. Mungkin tergolong biasa tapi digarap secara detail oleh Burton. Frankenweenie menyisipkan banyak pesan moral. Disini kita kembali bisa melihat binatang-binatang berperilaku seperti manusia, menangis, tertawa dan semuanya terlihat nyata.

Tim Burton kembali mendulang sukses setelah Charlie and The Chocolate Factory dan Alice in Wonderland  yang penuh warna. Format hitam putih tidak mengurangi kualitas film karena Burton nyatanya berhasil menyajikan gambar-gambar yang indah. Penggunaan tekhnologi 3D mungkin tidak banyak berpengaruh seperti layaknya menyaksikan Avatar 3D atau How to Train Your Dragon tapi tekhnologi tersebut masih mampu bekerja menampilkan gambar demi gambar menjadi lebih nyata.

Frankenweenie jelas sebuah proyek berhasil yang bisa mengembalikan kesuksesan seorang Burton setelah beberapa waktu yang lalu sempat merilis Dark Shadows yang kurang begitu dipuji. Sangat terlihat bahwa proyek film ini dikerjakan begitu detail olehnya. Merupakan bukti nyata bahwa seorang Tim Burton telah berhasil mewujudkan obsesi yang dipendamnya sejak lama menjadi sebuah film animasi yang siap bersaing diajang perfilman dunia. Stop motion to stop the heart. Brilian!

Iklan