Review : Loe Gue End (2012)


Cast : Nadine Alexandra, Dimas Beck, Dion Wiyoko, Manohara Odelia, Claudia Hidayat, Tracy Shuckleford, Amanda Soekasah, Kelly Tan, Martha Tesela.

Director : Awi Suryadi

Genre : Drama.

Running time : 80 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Berbicara mengenai potret gaya hidup di ibukota Jakarta memang tidak akan pernah ada habisnya. Banyak film yang telah dikatakan sukses menyajikan potret tersebut tetapi tidak sedikit pula yang gagal. Apa yang membuat film ini berbeda? Jika film berformula demikian memilih bermain aman dengan hanya menampilkan drama yang dibungkus dengan kehidupan dunia jetset yang gemerlap – terlepas dari sukses atau tidak – Loe Gue End memiliki keunikan tersendiri dengan menggabungkan drama dengan unsur misteri dan metafisika. Inilah film kesepuluh dari Awi Suryadi yang mencoba menyuguhkan sebuah drama dengan ……………

Zara Zettira (Amanda Soekasah), novelis terkenal memutuskan untuk tidak kembali menulis karena kehilangan gairah menulisnya. Suatu hari ia mendapat email-email misterius dari Alana (Nadine Alexandra) model dan anggota dari geng bernama The All-Acces yang terdiri dari kaum jetset Jakarta. The All-Acces terdiri dari Timo (Dimas Beck) anak mantan jaksa yang hobi drugs, Lina () Lesbian dan bandar narkoba, Radit (Dion Wiyoko) pria pujaan berkelakuan baik yang menyukai Alana, Fifi () model terkenal, Yosi seorang guru TK dan Vira (Manohara Odelia) shopaholic yang sangat narsis dan mencintai dirinya sendiri. Zara Zettira membuka satu-persatu email dari Alana yang menceritakan kelamnya hidupnya beserta teman-temannya, anggota The All-Acces.

Dari awal film bergulir, Awi terbilang sukses memanjakan mata. Gambar demi gambar di sajikan dengan begitu dinamis turut didukung dengan pemain-pemainnya yang rupawan. Sayang karakter dari para pemain menurut saya belum tereksplorasi dengan baik. Nadine Alexandra patut mendapat pujian karena cukup sukses menghadirkan Alana sesuai ekpektasi meskipun tidak sampai memukau. Sedangkan para pemain hanya mampu tampil sesuai porsi namun gagal meninggalkan kesan. Yang juga patut disayangkan adalah skenario yang menurut saya tidak stabil.

Ketidakstabilan skenario terlihat dari awal di mulainya film dengan cukup kuat namun kehilangan daya pikat dan melemah di pertengahan. Penggambaran astral projection tidak mampu memuaskan saya sebagai penonton. Belum lagi kemunculan ibu Alana yang terkesan tiba-tiba hanya merusak jalinan cerita yang sudah dibangun. Satu hal yang juga mengganggu dan tidak saya mengerti. Untuk apa ibu Alana menggunakan softlens sebelah seperti itu? Jika maksudnya untuk memberi kesan yang ada kaitannya dengan masa lalu ibu Alana, saya rasa itu bukan pilihan yang tepat. Sorry, it’s soooo childish.

Secara keseluruhan, Loe Gue End gagal tampil sebagai film drama yang diharapkan mampu memberikan sajian berbeda yang menarik. Skenario yang kurang rapi membuat film berjalan tidak stabil. Para cast bermain aman tanpa meninggalkan kesan. Twist yang digadang-gadang akan menyelamatkan film secara utuh hanya mampu menyelesaikan cerita dan berakhir dengan ending yang mungkin cukup klise. Meskipun terlampau biasa, Loe Gue End tetap mengandung pesan moral. Don’t ever do drugs. It will kill you! Melawan main-stream memang tidaklah mudah. Setidaknya Awi Suryadi sudah berbekal niat yang patut diapresiasi meskipun akhirnya mengalami gagal eksekusi.

Iklan