Review : Jakarta Hati (2012)


Cast : Slamet Rahardjo, Andhika Pratama, Roy Marten, Dwi Sasono, Agni Pratistha, Dion Wiyoko, Shahnaz Haque, Framly Nainggolan, Surya Saputra, Asmirandah, Jajang C. Noer.

Director : Salman Aristo.

Genre : Drama (Omnibus)

Running time : 115 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Outstanding!

Memang akan selalu menarik untuk mengupas tentang Jakarta dengan seribu wajah dan kisah didalamnya. Berapa banyak film yang telah mengangkat ibukota kedalam sebuah film? Jumlahnya banyak. Sebut saja Kejar Jakarta (2005), Jakarta Undercover (2006), The Sexy City (2010), Sanubari Jakarta (2012) dan yang palin baru, Loe Gue End (2012). Meskipun sama-sama menceritakan tentang kehidupan di Jakarta, film-film yang saya sebutkan tadi memiliki kemasan yang berbeda-beda tentunya. Lalu setelah banyaknya film dengan jenis tersebut apa yang membuat proyek Jakarta Hati terasa spesial dan membuat penasaran? Ya, jawabannya adalah Salman Aristo.

Siapa yang tidak kenal dengan Salman Aristo? Kiprahnya sebagai penulis naskah film sangat menjanjikan. Salman terbukti berhasil dalam beberapa film misalnya film keluarga inspiratif, Laskar Pelangi (2008), Garuda Didadaku (2009), Hari Untuk Amanda (2010) yang begitu manis sampai kiprahnya tahun lalu lewat Sang Penari (2011), peraih piala citra Film Terbaik FFI 2011. Setahun sebelum Sang Penari, Salman duduk dibangku sutradara dalam film omnibus berjudul Jakarta Maghrib. Setuju atau tidak, Jakarta Maghrib merupakan salah satu film omnibus terbaik yang dimiliki Indonesia, in my opinion.

Terdapat beberapa cerita dalam Jakarta Hati. Orang Lain menceritakan tentang sepasang pria dan wanita yang sama-sama diselingkuhi. Semalaman bercerita tentang pasangan masing-masing. Mereka mempertanyakan siapa yang sebenarnya menjadi orang lain dari hancurnya hubungan mereka. Masih Ada adalah kisah tentang perjalanan seorang anggota DPR yang terjebak dalam  keluh kesah masyarakat tentang Jakarta. Kabar Baik bercerita tentang seorang bapak yang ditangani oleh anaknya dalam sebuah kasus penipuan disamping hubungan mereka yang tidak harmonis. Segmen selanjutnya adalah Hadiah yang mengisahkan Firman seorang penulis skenario yang mengalami krisis ekonomi. Ia mendapat tawaran menulis naskah namun tidak sesuai keinginannya. Dalam keadaan yang sulit, anaknya malah meminta di belikan kado untuk ulang tahun temannya. Dalam Gelap adalah segmen tentang pasangan suami-istri berbicara satu sama lain tentang hubungan mereka dalam keadaan lampu yang padam. Mereka membuka perselingkuhan masing-masing yang selama ini menjadi masalah utama dalam rumah tangga mereka. Darling Fatimah bertutur mengenai hidup seorang janda cantik yang di pacari pria muda. Sang janda yang berprofesi sebagai penjual kue di pasar mempertanyakan keseriusan pemuda yang di pacarinya.

Ekspektasi saya besar mengingat kesuksesan omnibus Salman kemarin dan deretan pemain yang menjanjikan. Sayang, film yang dibagi dalam 6 segmen ini terasa tidak imbang satu sama lain. Film dibuka dengan segmen Orang Lain yang diperankan Asmirandah dan Surya Saputra. Sebuah pembuka yang cukup baik karena keduanya mampu menampilkan chemistry yang manis.

Segmen kedua berjudul Masih Ada mencoba menyinggung permasalahan sosial politik. Sayang, menurut saya kurang begitu berhasil meskipun segmen ini memiliki Slamet Rahardjo yang berperan baik sebagai anggota DPR.

Kabar Baik menjadi segmen ketiga. Saya harus setuju dengan pendapat kebanyakan orang bahwa di segmen ini terjadi ketimpangan yang cukupmenganggu . Aktor kawakan Roy Marten memerankan karakternya dengan sangat baik sementara Andhika Pratama terlihat sangat berusaha mengimbangi akting Roy sehingga yang saya lihat adalah akting yang tidak natural. Padahal segmen ini cukup mempunyai cerita yang cukup kompleks dan menarik.

Hadiah merupakan segmen berikutnya yang lumayan menggelitik. Beberapa dialog lucu sukses membuat penonton tertawa. Cerita yang diangkat bisa saya katakan sangat dekat dengan kondisi perfilman kita sekarang sehingga seolah-olah menjadi sebuah gambaran lain tentang profesi seorang penulis skenario dan produser film. Dwi Sasono  memberikan kontribusi penuh terhadap segmen ini.

Yang berbeda mungkin adalah segmen kelima. Dalam Gelap didukung oleh Agni Pratistha dan Dion Wiyoko. Segmen yang juga cukup memuaskan dimana film ini menampilkan dialog-dialog cerdas dalam keadaan gelap gulita sehingga wajah kedua pemain tidak dapat terlihat sama sekali. Yang juga menarik adalah segmen ini diambil dalam one take dengan durasi yang tidak sebentar, 19 menit. Kesulitan tersendiri mungkin hingga pemain melakoni segmen ini sebanyak 26 kali.

Jakarta Hati ditutup Darling Fatimah dengan pemain Shahnaz Haque dan Framly Nainggolan. Segmen ini diciptakan dengan dialog-dialog lucu yang dibawakan oleh Fatimah. Shahnaz tidak bermain buruk namun saya merasa di beberapa bagian aktingnya tidak natural. Padahal chemistrynya dengan Framly cukup mampu terbangun baik.

Jika ingin membandingkan Jakarta Hati dengan omnibus Salman yang sebelumnya jujur saya katakan, Jakarta Maghrib masih cukup jauh memuaskan dengan naskah yang sangat rapi dan performa dari seluruh pemain yang berkontribusi baik. Hal yang tidak saya temukan di film ini adalah keberhasilan Salman Aristo menyajikan segmen-segmen yang terasa begitu natural dan benar-benar nyata seperti apa yang saya pernah lihat dalam Jakarta Maghrib. Para pemain berdialog dengan sangat luwes dan bahkan tidak terlihat seperti akting. Brilian. Salman Aristo nampaknya harus kembali ke bangku sutradara, memberikan sajian yang baru dari hanya sekedar omnibus dengan kemasan Jakarta untuk membuktikan bahwa dirinya dapat menjadi sutradara yang mumpuni di masa mendatang.

Iklan