Review : Bidadari-Bidadari Surga (2012)


BIDADARI2SURGACast : Nirina Zubir, Nino Fernandez, Nadine Alexandra, Rizky Hanggono, Henidar Amroe, Adam Zidni, Frans Nicholas, Astri Nurdin, Mike Lewis, Chantq Schagerl.

Director : Sony Gaokasak.

Genre : Drama.

Running time : 105 minutes.

Rate Description  :

O : Rubbish / 1 : Dissapointing / 2 : Ordinary / 3 : Good / 4 : Very Good / 5 : Outstanding!

22

Ketika sebuah film sukses di pasaran bukan menjadi hal yang mengherankan jika nantinya pihak studio akan membuat film sejenis dengan harapan menyamai kesuksesan sebelumnya. Hal tersebut terjadi pada Hafalan Shalat Delisa yang mampu meraih 600 ribu lebih penonton dan bertengger di posisi tiga besar untuk perolehan penonton film Indonesia tahun rilis 2011. Seperti yang kita ketahui bahwa film tersebut di angkat dari novel laris karya Tere Liye yang bercerita tentang bencana Tsunami Aceh, 8 tahun silam. Tahun ini Starvision kembali menggandeng Sony Gaokasak sebagai sutradara untuk menggarap film berdasarkan novel dengan pengarang yang sama berjudul Bidadari-Bidadari Surga.

Bidadari-Surga-13Laisa (Nirina Zubir) adalah anak tertua dari lima bersaudara. Adik-adiknya terdiri dari Dalimunte (Nino Fernandez), Wibisana (Frans Nicholas), Ikanuri (Adam Zidni) dan Yashinta (Nadine Alexandra). Mereka hidup bersama ibu bernama Lainuri (Henidar Amroe). Memiliki fisik yang jauh berbeda dari adik-adiknya yang rupawan, Laisa seringkali di pandang sebelah mata padahal ia adalah seorang yang berhati baik, cerdas dan bertanggung jawab. Dengan alasan ingin melihat keluarganya bahagia, ia merelakan adik-adiknya untuk menikah lebih dahulu darinya. Pernihakannya dengan Dharma (Rizky Hanggono) yang gagal meninggalkan rasa sakit di hati Laisa. Namun karena tidak ingin membebani keluarga, Laisa selalu menyembunyikan keadaan dirinya termasuk penyakit kanker yang di deritanya.

Awalnya film bergulir cukup menjanjikan namun semakin bergerak, film ini semakin lemah. Formula yang sama dari sebelumnya digunakan Sony Gaokasak dalam menerjemahkan isi novel. Bedanya jika dalam Hafalan Shalat Delisa ia di tuntut menampilkan visualisasi surga ketika sang ibu pergi meninggalkan Delisa, dalam film ini ia memiliki tugas yang tidak lebih ringan yakni menampilkan sosok harimau dalam hutan. Sayang kedua-duanya  sama sekali tidak berhasil. Efek visualnya buruk. Memang bukan hal yang mudah tetapi hal tersebut memang bagian yang cukup mengganggu bagi saya.

Bidadari-Bidadari Surga semakin terlihat lemah di karenakan berjalan tidak konsisten. Contohnya tata rias make-up Laisa yang seringkali berubah-ubah. Jika anda jeli pasti akan sangat mudah melihat kapan kulitnya terlihat lebih coklat dari biasanya, rambutnya lebih besar dari sebelumnya. Naskah cerita menjadi hal yang juga patut di akui sangat mengecewakan. Sony berusaha keras membuat film ini menjadi film yang mengharu biru namun semuanya terasa gagal. Dengan dalih menguras emosi dan air mata penonton, hal-hal yang menimbulkan pertanyaan besar karena tidak berhasil meyakinkan penonton, dapat di temukan di sepanjang film.

Bidadari-Surga-1Satu-satunya yang patut mendapat nilai lebih dari film ini adalah akting dari Nirina Zubir yang cukup konsisten memerankan karakter Laisa. Meski aktingnya tidak secermelang film-film terdahulunya, setidaknya di beberapa bagian ia masih mampu bermain baik dan menunjukkan kualitasnya. Another cast? Tidak ada yang benar-benar spesial. Beberapa karakter timbul tenggelam seolah ada atau tidak adanya karakter itupun tidak berpengaruh banyak karena di hadirkan hanya sebagai pelengkap saja. Di tambah dengan suguhan tata musik yang  kapasitas dan penempatannya seringkali berlebihan dan tidak pas.

Sah-sah saja jika Sony Gaokasak ingin mengulang kesuksesan yang sama namun formula yang di gunakan membuat Bidadari-Bidadari Surga tidak lebih rapi, tidak lebih mengharukan, apalagi lebih baik dari  Hafalan Shalat Delisa. Usahanya menyajikan film drama keluarga dengan maksud memberikan pesan-pesan moral kepada penontonnya patut dihargai, namun gagalnya eksekusi hanya akan menjadikan film ini sebagai film altenatif liburan bagi keluarga yang tidak meninggalkan kesan sehingga akan sangat mudah pula untuk dilupakan.

Iklan