REVIEW : KM 97 (2013)


km97posterCast : Feby Febiola, Restu Sinaga, Zidane, August Melasz, Iang Darmawan, Tya Maria, Fitrie Rachmadina, Elsa Diandra, Henry Tabul.

Director : Jose Purnomo.

Genre : Horror.

Running time : 115 minutes.

Rate Description  :

O: Rubbish / 1: Dissapointing /  2: Ordinary / 3: Good /  4: Very Good / 5: Outstanding!

15

Bagaimanapun predikat sutradara spesialis urban legend akan segera melekat kepada Jose Purnomo. Oktober tahun lalu Jose merilis Rumah Kentang yang telah menjadi fenomena jauh sebelum filmnya dibuat. Sebelumnya fenomena Angkerbatu juga pernah ia angkat di tahun 2007 meski dikalangan masyarakat mungkin tidak sepopuler Rumah Kentang. Untuk kesekian kalinya Jose menggunakan formula sama yang mitosnya juga tidak kalah asing yakni mengenai mistisnya KM 97 tol Cipularang. Sudah beberapa film yang sempat menjadikan Cipularang sebagai ‘jualannya’ mampukah film ini tampil lebih baik atau malah kembali mengecewakan selepas film terakhir Jose?

img12Sepasang suami-istri Anton (Restu Sinaga) dan Lidya (Feby Febiola) serta anaknya, Bintang (Zidane) baru saja tiba dari Itali dan menuju Bandung. Dengan alasan waktu, Anton memutuskan untuk melalui tol Cipularang. Dalam perjalanan Bintang meminta untuk pipis, Anton terpaka memberhentikan mobil yang kebetulan juga bannya kempes. Setelah itu semuanya berjalan wajar. Namun perlahan Lidya mulai dihantui almarhum ibu Anton yang baru saja meninggal. Hal-hal aneh yang terjadi dirumah juga dirasakan Sucipto (August Melasz) ayah Anton. Kecurigaan Sucipto ternyata benar. Bintang yang ada dirumah merupakan sosok hantu anak kecil yang menyamar. Kini Anton dan Lidya harus mengembalikan hantu tersebut ketempat asalnya untuk mengembalikan Bintang.

Tanpa basa-basi film bergulir membawa KM 97 sebagai pembuka. Dengan maksud tidak ingin kembali kecewa setelah Rumah Kentang yang digadang-gadang sebagai simbol kembalinya ciri khas film horror Indonesia tanpa bumbu seks pada akhirnya menemui titik gagal, ekspektasi terhadap film ini saya tekan serendah-rendahnya. Rupanya benar, apa yang Jose suguhkan dalam film ini tidaklah jauh berbeda dengan apa yang saya temui dalam film horror Jose sebelumnya. Jose masih mengandalkan musik yang menganggu telinga untuk menghadirkan ketengangan demi ketegangan. Bahkan jika diperhatikan beberapa musik didalam film ini pernah dipakai dalam Rumah Kentang. Penulis naskah Hilman Mutasi nampaknya masih perlu lebih kreatif lagi mengaduk naskah agar mitos yang diangkatnya didalam film ini tidak menjadi benar-benar membosankan seperti poster filmnya yang sama sekali tidak menarik.

km97picDari segi cast, Restu Sinaga gagal memberikan penampilan yang mampu disebut baik. Didukung dengan karakter yang dibebankan kepadanya, penampilannya tidak jauh berbeda dari apa yang pernah kita saksikan misalnya dalam film Susuk Pocong. Feby Febiola cukup mengobati rasa rindu penggemarnya yang mungkin belum puas akan aksinya dalam The Witness yang memberikannya porsi minim. So, castsnya tidak begitu istimewa mungkin selain Zidane yang cukup menggemaskan (loh, bukannya ini film horror?). Tidak mengusung aktor-aktris yang sedang digandrungi bukan berarti jaminan filmnya tidak akan dilirik. Film ini jelas tetap memiliki potensi penonton tentunya karena mengangkat mitos yang mampu membuat penasaran siapa saja baik bagi yang sebelumnya sudah mendengar mitosnya maupun yang belum pernah sama sekali. 

Secara pribadi film ini tidak mengecewakan untuk satu hal. Tragedi Cipularang disuguhkan dengan sinematografi yang cukup baik. Tapi apakah itu cukup? Kembali lagi bahwa tugas sutradara dalam genre horror tentu menyajikan film yang mampu membuat penonton tegang ataupun bahkan histeris.  Namun sebenarnya apa tolak ukur dalam menciptakan adegan yang menegangkan versi seorang Jose Purnomo? Haruskah dengan musik yang teramat bising? Rasanya tidak perlu seperti itu juga. Dari segala kekurangan yang ada alhasil membuat KM 97 tidak lebih dari sekedar wujud nyata tentang mitos yang sempat bertahun-tahun ramai menjadi perbincangan masyarakat. Dari cara Jose mengeksekusinya, film ini jelas masuk dalam kategori gagal. Oh ya, bau kemenyan tercium dalam teater selama acara Gala Premier berlangsung. Trik promosikah?

Iklan