REVIEW : BANGUN LAGI DONG LUPUS


POSTERBLDL

Cast : Miqdad Addausy, Acha Septriasa, Kevin Julio, Jeremy Christian, Alfie Alfandy, Fabila Mahadira, Mella Ausin.

Director : Benni Setiawan.

Genre : Drama-Comedy.

Running time : 106 minutes.

Rate Description  :

O: Rubbish / 1: Dissapointing /  2: Ordinary / 3: Good /  4: Very Good / 5: Outstanding!

1

Kepopuleran Lupus, tokoh fiksi serial novel karangan Hilman Hariwijaya rupanya memang sulit untuk dilupakan begitu saja. Pertama kali diterbitkan pada tahun 1986 dengan judul Lupus 1: Kejarlah Daku Kau Kujitak, serial Lupus kemudian difilmkan dan menarik minat banyak penonton. Mengacu kepada kesuksesan tersebut, serial Lupus kemudian dilanjutkan dan berakhir pada tahun 1991 dengan jilid kelima berjudul Iiiih.. Syereeem!. 15 tahun tertidur, Eko Patrio selaku produser berinisiatif membangunkan Lupus kembali dengan menggelar audisi pemeran Lupus, Lulu dan Gusur dan menggandeng sutradara peraih piala citra Benni Setiawan di bangku sutradara. Judul Bangun Lagi Dong Lupus pun dipilih karena dianggap mewakili misi besar menghidupkan kembali kisah fenomenal ini.

LUPUS12Lupus (Miqdad Addausy) anak yang cuek namun sangat menyayangi kelurganya pindah ke SMU Merah Putih. Pada hari pertamanya, ia tidak sengaja bertemu dengan Poppie (Acha Septriasa). Sering jalan bersama membuat keduanya sama-sama memendam perasaan. Hal tersebut kemudian diketahui Daniel (Kevin Julio) kekasihnya Poppie, membuat ketiganya terlibat dalam cinta segitiga. Di sekolah Lupus mempunyai tiga teman dengan tiga karakter dan problem yang berbeda-beda, Gusur (Jeremiah Christian) seniman aneh yang bercita-cita membelikan rumah untuk engkongnya, Boim (Alfie Alfandy) yang memiliki kepercayaan diri sangat tinggi tengah terjebak dalam masalah hutang, dan si kutu buku Anto (Fabila Mahadira) yang selama ini tidak memiliki teman. Lupus sendiri yang sedang dalam rencana ikut dalam lomba go green bersama ketiga temannya harus membagi fokusnya yaitu memperjuangkan Poppie untuk akhirnya menjadi kekasihnya.

Usaha Eko Patrio dengan dukungan Hilman dan sang sutradara Benni Setiawan untuk menghidupkan kembali Lupus memang patut diacungi jempol. Permen karet yang masih terus melekat menandakan usaha sang sineas mempertahankan karakter kuat yang ada dalam diri Lupus. Tapi cukupkah dengan hal tersebut? Cukup disayangkan presentasi karakter Lupus dalam film ini amat mengecewakan. Mungkin ingin dibuat kekinian tetapi tidak terlihat efektifitas tersebut jika memang alasannya demikian. Tidak ada lagi Lupus yang konyol, jahil ataupun mungkin tengil. Disini Lupus diceritakan sangat patuh akan agama dan sering melontarkan petuah demi petuah kepada temannya. Banyak dari dialog-dialog Lupus yang tidak believeable karena dibuat terlalu tertata dan terkesan menceramahi. Tentu bagi penggemarnya akan sangat mudah kecewa dengan Lupus versi baru ini.

lupus11Duet Hilman dan Benni menjadi performa yang paling menyedihkan dimana filmnya berjalan sempoyongan dengan template kadaluarsa, kebingungan entah ingin dibawa kemana. Banyaknya karakter yang muncul ditampilkan begitu saja tanpa efektifitas sama sekali. Niat ingin melucu, tidak maksimal. Adegan-adegan yang didramatisir dengan maksud memainkan emosi penonton juga gagal. Sungguh, Bangun Lagi Dong Lupus tampil seperti film yang dikerjakan oleh orang-orang baru yang mencoba memanfaatkan kepopuleran Lupus. Saya sendiri tidak percaya film ini dibuat oleh seorang Benni Setiawan yang menulis naskahnya bersama Hilman Hariwijaya, sang penulis novel yang menciptakan karakter Lupus.

Sayang sekali, Miqdad Addausy yang memiliki potensi besar untuk berperan baik sebagai Lupus, pada kenyatannya gagal. Saya pernah melihat akting konyol Miqdad disebuah serial tv. Secara packaging, ia jelas sangat memenuhi persyaratan. Namun dengan eksekusi naskah yang payah, potensi tinggalah potensi. Acha Septriasa yang biasanya memukau, tampil biasa-biasa saja dalam film ini. Yang saya salut Acha masih tampil meyakinkan sebagai anak SMA. Jika Miqdad sibuk memberikan petuah, Ira Maya Sopha sibuk menangis sepanjang film. Setiap kali muncul tidak ada hal lain yang dapat dilihat dari karakter ibu Lupus disini selain menangis atau terharu. Padahal kita tahu, Ira Maya Sopha bisa-bisa saja memukau seperti tampilannya dalam Mother Keder: Emakku Ajaib Bener, mungkin. Lulu yang diperankan juga sayang sekali tidak dimaksimalkan. Meski sesekali berhasil menghadirkan tawa, karakter Gusur dalam film ini juga belum sepenuhnya berhasil menghibur meski didukung dengan Alfie Alfandy yang berusaha melucu di sepanjang film.

lupus 14Ketika dalam menonton sebuah film, penonton masih sempat membuka handphone, mengecek bbmnya atau bahkan tertidur maka jelas ada yang salah dengan film tersebut. Durasi film ini sendiri bisa dibilang standar, 106 menit. Namun tidak fokusnya cerita berpotensi membuat penonton bosan. Bangun Lagi Dong Lupus tidak bijak dalam membagi porsi dari banyaknya karakter yang dimunculkan sehingga membuat banyak adegan terasa tidak penting karena eksekusinya yang tidak maksimal. Misi film ini sendiri jelas nampak pada judulnya, Bangun Lagi Dong Lupus. Namun dengan komposisi demikian rasanya masih dibutuhkan naskah yang lebih cerdas, eksekusi yang lebih tepat dan dekat dengan karakter-karakter aslinya. Lupus belum benar-benar terbangunkan.

Iklan