REVIEW : MURSALA


Mursala_PosterCast : Titi Rajo Bintang, Rio Dewanto, Mongol, Anna Sinaga, Tio Pakusadewo, Rudy Salam, Raja Bonaran Situmeang, Roy Ricardo, Elza Syarief.

Director : Viva Westi.

Genre : Drama.

Running time : 92 minutes.

Rate Description  :

O: Rubbish / 1: Dissapointing /  2: Ordinary / 3: Good /  4: Very Good / 5: Outstanding!

22

Merilis Rayya: Cahaya Diatas Cahaya tahun lalu, Viva Westi menjadi salah satu nama sutradara yang patut diperhitungkan. Tidak heran jika film tersebut mendapat banyak nominasi dibeberapa ajang perfilman di Indonesia. Naskahnya yang brilian dilengkapi dengan performa duo Tio-Titi yang bermain apik. Setelah kesuksesan tersebut, muncul Mursala. Film yang mendapat larangan keras dar Direktorat Pengembangan Industri Perfilman Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia karena gugatan Majelis Budaya Pesisir dan Pariwisata Sibolga, Tapanuli Tengah yang mempersoalkan isi cerita. Mursala yang direncanakan tayang 2012 akhirnya batal. Entah bagaimana prosesnya, proyek ini kemudian kembali terdengar di awal tahun 2013 sampai akhirnya dirilis tepat pada 18 April 2013.

mursalaAnggiat Simbolon (Rio Dewanto) adalah seorang pengacara sukses di Jakarta yang merantau dari kampung. Kesuksesannya sebagai pengacara terkenal membuat keluarganya bangga namun ibunya masih memiliki satu harapan, melihat Anggiat menikah dengan Paribannya (saudara sepupu). Anggiat kemudian memperkenalkan Clarissa (Anna Sinaga) kekeluarganya. Clarissa juga merupakan keluarga batak yang sayangnya memiliki marga yang tidak memungkinkannya untuk mendapat restu menikah bersama Anggiat. Larangan adat tersebut membuat hubungan Anggiat-Clarissa merenggang. Anggiat kemudian bertemu kembali dengan Bonatiur Sinaga (Titi Rajo Bintang) teman masa kecil sekaligus paribannya yang masih menyimpan perasaan kepadanya.

Kasus seperti ini tidak baru-baru ini terjadi dalam perputaran film Indonesia. Film yang mengalami kemunduran jadwal rilis juga tidak hanya semata-mata karena diterpa masalah seperti misalnya yang terjadi pada film ini. Pihak produser biasanya sengaja menunda dan menyimpan film yang siap tayang dengan alasan menunggu timing yang tepat. Bisa jadi hasil filmnya tidak membuat segenap pembuatnya percaya diri untuk buru-buru merilisnya. Setidaknya alasan-alasan tersebut mewakili pertanyaan mengapa film yang sudah mendapat jadwal rilis secara tiba-tiba mengalami penundaan. Yang pasti saya sebagai penonton sudah berpikir negatif duluan mengapa sebuah film sampai ditunda penayangannya. Belum lagi soal penundaan yang mempengaruhi mood sebelum menontonnya. Bisa jadi kita sudah tidak sepenasaran dulu sebelum filmnya akhirnya batal tayang.

mursala23Mungkin ini nasib kurang beruntung yang menerpa. Secara materi film ini bagus. Kisah percintaan yang mengangkat etnis Batak dengan segala macam adat-istiadat yang menjadi bumbu didalamnya. Sayangnya naskah Mursala memang tidak dikerjakan dengan begitu sungguh-sungguh. Hal tersebut jelas terlihat dimana hampir seluruh adegan tidak mampu dieksekusi dengan maksimal. Saya bahkan menemukan bagian yang seolah-olah membuat film ini seperti tidak melewati proses editing yang benar-benar baik. Konflik- konflik yang seharusnya dapat dieksplor dengan baik dibiarkan begitu saja. Padahal sekali lagi, Mursala memiliki materi yang sangat menarik dan seharusnya mampu tampil sebagai drama yang memikat jika dikerjakan dengan rapi, namun itu yang tidak terlihat dari film ini.

Beberapa adegan juga hadir dengan product placement yang sangat frontal. Yang paling parah adalah dialog “Iya, kan aku pakai Telkomsel” yang diucapkan dengan intonasi yang begitu menggelitik seolah tidak ada lagi pilihan dialog yang lebih wajar diucapkan seseorang dalam kehidupan sehari-hari untuk ‘menjual’ produk tersebut. Rio Dewanto jelas tidak memberikan penampilan yang baik dalam film ini. Mongol yang tampil tanpa tantangan menjadi supporting yang untungnya cukup pas. Anna Sinaga tidak berhasil memberikan nyawa pada tokoh Clarissa. Ia memainkan tokoh tersebut dengan amat datar. Munculnya Elza Syarief yang teramat kaku membuat penampilannya menjadi tidak begitu penting, namun Tio Pakusadewo dan Titi Rajo Bintang lagi-lagi berhasil tampil apik. Titi layak diberi apresiasi lebih atas dedikasinya memerankan Tiur dengan gestur dan aksen yang pas. Penampilannya sepanjang film konsisten dan believeable.

mursala22

Mursala menjadi contoh film dengan materi menarik namun eksekusi seadanya. Saya sangat percaya jika dikerjakan dengan lebih matang lagi, tidak sulit untuk film ini menjadi salah satu film drama yang berkualitas. Viva Westi seolah-olah tidak sungguh-sungguh dalam menggarapnya. Tidak mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Atau mungkinkah film ini dapat disebut sebagai film belajarnya setelah Pocong Keliling (2010) yang menurunkan kualitasnya sejak May (2008) hingga mencapai hasil memuaskan Rayya: Cahaya Diatas Cahaya (2012)? Entahlah. Mursala gagal berbagai aspek. Amat sangat disayangkan mengingat film ini memiliki ‘modal’ besar untuk menjadi film bagus.

Iklan