REVIEW : KISAH 3 TITIK


kisah3titikCast : Ririn Ekawati, Lola Amaria, Mariam Supraba, Donny Alamasyah, Gary Iskak, Rangga Djoned, Dimas Hary, Lukman Sardi, Inggrid Widjanarko, Miea Kusuma, Gesatta Stella, Ella Hamid, Gia Partawinata.

Director : Bobby Prabowo.

Genre : Drama. 

Running time : 100 minutes.

Rate Description  :

O: Rubbish / 1: Dissapointing /  2: Ordinary / 3: Good /  4: Very Good / 5: Outstanding!

3cinemaylo114

Jujur saja, kehadiran Minggu Pagi Di Victoria Park yang juga menjadi film terbaik tahun 2009 versi Cinemaylo, secara mendadak membuat saya menjadi salah satu dari penggemar Lola Amaria. Prinsipnya dalam membuat film menunjukkan dedikasi besarnya terhadap perfilman Indonesia. Sosoknya juga cukup netral. Baginya setiap film punya takdirnya masing-masing. Lihat saja Minggu Pagi Di Victoria Park yang tidak begitu menggembirakan dalam raihan penonton untuk film dengan kualitas demikian. Tahun lalu Lola Amaria menyuguhkan proyek berjudul Sanubari Jakarta yang sukses memotret kehidupan LGBT di Jakarta. Hasilnya tidak main-main, 10 cerita berbeda dibaur menjadi satu film omnibus yang realistis. Seolah belum puas membuat film yang mengangkat sisi-sisi kemanusian dari kaum marjinal, Lola Amaria kembali diperingatan Hari Buruh dengan film berjudul Kisah 3 Titik.

kisah3titik_Berkisah tentang 3 wanita bernama Titik. Titik yang pertama adalah Titik Sulastri atau Titik Janda (Ririn Ekawati). Titik Janda yang ditinggal mati oleh suaminya tinggal di sebuah perumahan kumuh yang sebagian besar penghuninya buruh. Ia harus berjuang bertahan hidup dengan anak perempuannya yang masih kecil. Untuk dapat terus bekerja dipabrik garmen dengan upah yang rendah, ia harus menyembunyikan kehamilannya. Kehidupan Titik Janda berbeda dengan kehidupan Titik Dewanti Sari atau Titik Manajer (Lola Amaria). Seorang wanita yang cerdas dan sangat ambisius. Diangkat menjadi manajer SDM untuk pabrik garmen yang baru dibeli oleh perusahaan tempatnya bekerja, ia harus dihadapkan dengan dilemma yang menyangkut sisi kemanusiaannya dengan kepentingan perusahaan yang mengancam kariernya. Sementara cerita yang terakhir datang dari Kartika atau Titik Tomboy (Mariam Supraba). Dibesarkan dari lingkungan yang keras membuatnya berpenampilan dan berjiwa seperti laki-laki. Ia bekerja diindustri rumahan yang memproduksi sandal dan sepatu. Disana keberaniannya di uji ketika melihat anak-anak sekolah dipekerjakan dan di didik dengan tidak benar.

kisah 3Kursi sutradara diberikan kepada Bobby Prabowo yang untuk pertama kalinya menjadi sutradara film sementara Lola Amaria duduk manis sebagai produser. Charmanta Adji yang menulis naskahnya mengaku melalukan proses riset yang cukup panjang. Tidak heran naskahnya bercerita secara efektif dalam film ini. Ketiga titik menjadi simbol yang memiliki kisah dan konflik yang dihadirkan secara lugas. Charmanta dengan cerdas meramu cerita dengan sangat realistis menjadikannya menarik sedemikian rupa, memberikan gambaran-gambaran tegas tentang kehidupan buruh sebenarnya dan mengajak penonton untuk ikut berpikir. Didukung dengan sinematografi apik oleh penata kamera Nur Hidayat, Kisah 3 Titik sukses menghadirkan potret buruh di Jakarta dan sisi-sisi kemanusiaan dari para tokoh pelakunya.

kisah 3tiDari departemen akting, Ririn Ekawati tampil paling bersinar dari titik yang lain. Perjuangan seorang janda untuk bertahan menghidupi anak dan bayinya yang segera lahir dipresentasikan dengan sangat baik olehnya. Ada satu adegan (maaf jika spoiler) dimana Titik janda meminta izin melahirkan di pabrik tempatnya bekerja. Disitu Ririn tampil dengan sangat brilian dan sukses membuat saya ikut meneteskan air mata. Ini seperti sebuah surprise dari seorang Ririn yang awalnya saya tidak berekspektasi apa-apa karena peran sejenis sudah sering diterima Ririn dan membuatnya seolah-olah telah menjadi stereotipnya. Kali ini saya harus angkat topi untuk performanya dalam film ini. Mariam Supraba yang mengaku feminim memerankan Titik tomboy yang memperjuangkan keadilan dengan cukup baik. Mariam bisa bersinar jika mendapat peran yang sesuai dikemudian hari. Sayang, Lola Amaria sendiri tidak begitu sukses dalam memerankan Titik manajer. Tidak buruk namun kurang terasa pas untuknya.

Kisah 3 Titik memang bukan sebuah masterpiece. Masih banyak hal yang memang membutuhkan koreksi. Salah satunya gaya bertutur Bobby yang masih cenderung lambat. Tidak bermaksud membandingkan tetapi saya merasa Minggu Pagi Di Victoria Park masih berada cukup jauh diatas film ini. Tapi benar kata Lola, film ini semacam investasi. Dimana jika 10 atau 20 tahun kedepan film ini diputar tentunya akan menjadi gambaran dari sejarah Indonesia tahun 2012-2013. Sekali lagi, kinerja Lola Amaria dan tim yang berupaya menyajikan film yang baik untuk ditonton penonton film Indonesia patut diapresiasi. Dan lagi, tanpa kehadiran film ini bisa jadi kita tidak tahu bagaimana kehidupan buruh sebenarnya. Kisah 3 Titik sudah jelas memberikan tontonan berdasarkan realita yang ada. Semuanya terasa believeable tanpa harus berdramatisasi dimana-mana. Bukankah itu yang paling penting? Menonton film yang mampu membuat kita ‘percaya’ akan apa yang sedang atau telah kita tonton. Tidak melulu mesti menghibur. Seperti itulah film yang baik. 

Iklan